
Bike’s analogy inspire these article, my latest view : MarketPlus, January 2012
Di tengah perbincangan calon pemimpin ibukota, kabar Prijanto yang mengundurkan diri dari Wakil Gubernur Jakarta menjadi sorotan jelang akhir tahun 2011. Di sela kenyataan tersebut, tampaknya kita memang terus mendambakan sosok pemimpin yang mampu memperbaiki kota metropolitan ini. Maju terus, atau mundur? Apakah pemimpin ksatria terus maju? Apakah orang yang mundur bukanlah pemimpin?
Tanggapan akan pertanyaan tersebut bisa jadi beragam. Namun, mundur atau maju, pada hakikatnya setiap orang adalah pemimpin, paling tidak untuk dirinya sendiri. Disini kita mencoba bagaimana mengayuh roda kepemimpinan diri dan lingkungan sekitar dengan mengambil filosofi bersepeda. Tentu saja sambil merefleksi perjalanan ibukota.
Sepeda, kendaraan sederhana ini memberikan makna. Ada roda yang terletak di depan dan belakang. Seperti itulah kiranya pemimpin, ia berada didepan karena dukungan orang di belakangnya. Sebagaimana rantai yang ada di depan saling bersambung. Jika salah satu roda mengalami gangguan, maka perjalanan menjadi terhambat. Artinya, dukungan satu sama lain adalah upaya mencapai kepemimpinan yang hebat.
Lalu, bagaimana upaya pemimpin ibukota, dan dukungan masyarakatnya? Tentunya keduanya harus merefleksi diri. Marco Kusumawijaya, pemerhati masalah urban menuliskan gagasan mengenai radikalisasi Do it Yourself. Tidak bisa dipungkiri, birokrasi baik DPRD dan gubernur belum maksimal. Namun, banyak upaya yang dilakukan oleh masyarakat secara mandiri. Bilamana keduanya sinergi, maka kapasitas individual akan mendorong terciptanya perubahan yang lebih baik secara kolektif.
Kini kita beralih mengamati rem tangan di kiri serta tuas pengatur kecepatan di kanan. Seorang pemimpin, memang dituntut untuk mengambil keputusan. Desire to lead . Kapan ia pelan, mengayuh dengan penuh kekuatan, mengatur keseimbangan, dan memutuskan menahan kecepatan. Pemimpin harus menimbang, dan tahu konsekuensi bila menghentikan sementara, maupun melanjutkan perjalanannya.
Keputusan-keputusan pemimpin menangani permasalahan ibukota perlu berani dan tegas. Pada masa pemerintahan Ali Sadikin, masyarakat menghadapi tantangan berupa keterbatasan. Namun, ketegasan Ali membawa perubahan yang baik, misalnya karya Rencana Tata Ruang Kota (RTRK) Jakarta untuk periode 1965-1985. Beberapa kelompok menilai , Jakarta kini menuai kelimpahan sumber daya, dinamika pengetahuan, namun kepemimpinan dan integritas belum mengalami kemajuan.
Selanjutnya, kita bisa menuai makna di kesederhanaan warna dan fisik sepeda. Pemimpin, tak perlu mengedepankan hal bersifat simbolis. Sebagaimana sepeda, tak perlu ditambah pita, bendera, maupun cat warna-warni. Bisa jadi, tidak semua orang menyukainya. Artinya, cukuplah pemimpin bersinar dengan warna yang dimiliki, sementara biar orang yang akan menilainya. Bahwa sederhana adalah bahasa. Bahasa yang kelak semua orang mencintainya.
Merefleksi kesederhanaan fisik dan warna sepeda, maka sudah saatnya pemimpin menghapus kebiasaan yang mengedepankan program simbolis. APBD dibelanjakan untuk hal yang berdampak luas, berkualitas, dengan kontrol yang kuat. Kita bisa lihat Surabaya, kota yang meraih predikat terbaik untuk pelayanan publik, Solo meraih penghargaan Pelopor Inovasi Pelayanan Prima. Hal inilah yang menjadikan masyarakat begitu mencintai pemimpinnya.
Kepemimpinan Gubernur DKI saat ini kurang dari setahun lagi, tepatnya pada bulan Oktober 2012. Jakarta masih tetap menjadi kebanggaan masyarakat nya, juga warga Indonesia yang selalu mengingat kota metropolitan ini sebagai ibukota negara. Jakarta adalah gerbang negeri nan raya ini. Semoga kepemimpinan yang kuat akan terwujud , muncul pemimpin yang benar-benar melangkahkan kaki, turun ke jalan, dan selanjutnya mengayuh roda kepemimpinan Jakarta untuk negeri tercinta.