Perjalanan perempuan dalam menyumbangkan peradaban tampak pada sejarah batik Indonesia. Anggun, istimewa.Karya abadi yang dihasilkan melalui proses kognitif dan penjiwaan perempuan. Batik adalah hasil dari suatu pergerakan yang berangkat dari kesadaran yang positif, mengenai kelebihan perempuan yang sangat spesial. Mereka tidak merasa tertindas, mereka bergerak dengan karya dan bersuara. Sejalan dengan apa yang dikatakan Mahatma Gandi : ” There is no occasion for women to consider themselves subordinate or inferior to men.”
Kita banyak menjumpai berbagai kampanye, seruan, seminar, atau -istilahnya-pencerdasan untuk perempuan. Tema yang diangkat antara lain kekerasan perempuan, kriminalisasi perempuan,ketidakadilan, dan sebagainya. Ada pula yang menyelenggarakan lomba fotografi, poster,esai dengan kepentingan menyebar isu mengenai kebebasan dari ketertindasan. Fenomena ini sudah sangat lama dan berulang, bagaikan tema seasonal story. Kelemahannya, cerita bermusim ini tidak pernah menemui beda. Berulang, diiringi kepenatan penantian suatu jawaban yang mencerahkan.
Ada baiknya bila kita membaca jejak romantis perempuan masa lalu. Sangat baik kiranya kita meletakkan sikap positif, rehat dari rasa was-was akan ancaman penindasan yang sering digaungkan. Karena bisa jadi itu sekedar self fulfilling prophecy, bayangan buruk yang terjadi karena dibuat oleh pemikiran kita sendiri.
Cerita perempuan masa lalu, yang diklaim sebagai kisah kasur, dapur, sumur,seolah tidak memiliki daya kegemilangan menghasilkan karya. Sebagian orang mungkin tertawa akan peran domestik tersebut,percaya bahwa cara demikian yang menyebabkan perempuan tidak pernah maju.Ternyata,jika kita mau menengok produktivitas perempuan pada masa lalu, bisa jadi kita terperangah,dan menggugat apa yang pernah dihasilkan perempuan peradaban masa kini.
Perempuan dan Batik. Dalam sejarah Indonesia disebutkan bahwa kerajinan tangan tersebut merupakan pekerjaan eksklusif perempuan pada saat itu. Mereka tak meninggalkan aspek vertikal yang tampak pada proses spiritual, menggunakan seluruh indera perasa, menjalani proses sarat ritual ruhani. Perempuan Jawa, ada keharusan bisa membatik guna melatih kesabaran, ketekunan,perasaan, dan pikiran. Dikuatkan oleh Hokky Situngkir,sosiolog muda yang mengatakan bahwa batik bukan hanya sebatas mengerjakan keperluan sandang yang bersifat horisontal. Selain itu, batik memiliki unsur sains yang menakjubkan. Sepotong kain batik atau keseluruhannya, ia senantiasa memancarkan pola kesamaan yang merupakan pola geometris yang sederhananya disebut fraktal. Ciri khas geometri dengan hitungan matematis ini berbeda pakem hitungan peradaban Eropa.
Kisah batik berlanjut dari abad 17 hingga awal abad 19. Batik menjadi primadona komoditi di Nusantara. Perjalanan yang mempesona,dan kutipan menggelitik dari Professor Sujoko (Alm), pakar seni rupa meneguhkan cerita ini:” Pelukis pertama dari Indonesia adalah Perempuan Jawa yang melukis dengan canting di atas bahan tenunannya.” Dan tanggal 2 Oktober 2009 merupakan satu dari sekian kesuksesan peradaban perempuan Nusantara kala itu. Seluruh dunia melalui UNESCO mengakui batik sebagai warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi.
Nilai yang Menghilang
Saat ini kita sedang berbicara tentang subjek aktif di balik mahakarya batik. Pertama, Ia adalah sosok yang berpegang pada nilai, dan paham akan tujuan dan alasan ia bertindak. Membatik bukan sekedar membakar lilin, menggoreskannya dengan canting, atau mencoret-coret kain sesuka hati. Membatik tak lepas dari kekuatan spiritual, meminta kestabilan, ketekunan.
Kedua, ia menyadari dan percaya akan kemampuannya yang istimewa.Hasilnya, tidak ada satu pun motif batik yang buruk,gagal,semua berkualitas. Bahkan, tak jarang kita menemukan corak dengan kerumitan tinggi. Contohnya, motif batik tulis Nitik Karawitan, Batik Ciptoning, atau Udan Liris. Hal tersebut hanya berangkat dari kepercayaan penuh akan kemampuan diri.
Dan ketiga,I a mencintai kreativitas,dan kecerdasan. Hal tersebut tampak bagaimana ia menggambarkan kehidupan nyata dengan simbol, menuangkan hasil pengamatan lingkungannya melalui indera yang jeli, dan belajar filosofi melalui karya yang dihasilkannya. Contohnya corak Udan Liris yang terinspirasi dari gerimis hujan, menggambarkan simbol kesuburan. Kita dapat menyimak banyak motif unsur alam lain seperti sawat, api, gunung, garuda (burung), ular (naga), daun, bunga,akar, dan sebagainya yang mengandung falsafah berbeda
Tampaknya, ketiga hal tersebut menjadi kekuatan perempuan, bangkit karena kesadaran keistimewaan yang dimilikinya. Namun, seiring perjalanan waktu, nilai tersebut tergerus dan nyaris menghilang. Arus globalisasi dengan gencar mencampuradukkan nilai hingga menghasilkan gejala glokalisasi. Sosok yang memegang nilai, spiritual,dan paham akan tujuan tergantikan dengan ideologi campur aduk,pandangan muka dua, taklid tanpa tahu tujuan tindakannya. Pribadi yang percaya akan kemampuan diri pun berubah,kreativitas macet. Terlebih, budaya konsumtif yang semakin marak seolah menguatkan stereotip perempuan.
Kehilangan nilai-nilai yang dikemukakan diatas diperparah dengan kenyataan bahwa perempuan memiliki peran ganda. Di satu sisi ia memiliki kewajiban mendidik anak dan mengurus rumah tangga, di sisi lain ia harus mendukung kemajuan di lingkungannya. Tanpa tiga kekuatan diatas, maka posisi perempuan modern sangat rentan dengan permasalahan. Seperti yang ditulis Endah Sulilantini, mengutip Asi. S Dipojodjo bahwa sangat penting bagi masyarakat untuk melestarikan ketentuan, tata tertib, kebiasaan, tingkah laku dan perbuatan sesuai lingkungan. Karena ini berarti melestarikan irama kehidupan yang sesuai dengan kondrat alam dan cita-cita masyarakat, sehingga tindakan pelanggaran ketentuan-ketentuan tersebut akan mengganggu irama kehidupan masyarakat.
Berbicara dengan karya. Kalimat positif sepertinya menjadi barang langka di negeri ini. Kita tentu lelah dengan protes anti ini itu, dan sangat merindukan energi penyemangat yang mendorong sebuah karya. Kita bisa ambil ilustrasi pembuatan batik. Perempuan memiliki peran dalam ranah domestik, namun kian dihargai karena ia mampu menghasilkan inspirasi dan karya. Ia tidak berdiam diri,dan berpikir positif dan penuh harapan, seperti halnya corak Sidomulyo yang dibuat sebagai simbol kebahagiaan dan kemuliaan sebuah pernikahan, dan corak Ciptoning yang mengharapkan hidup penuh kebijaksanaan.
Rhonda Byrne dalam The Law of Attraction mengingatkan teori perihal berpikir positif yang senantiasa menemukan jalan keluar, dan tercapainya keinginan manusia. Gerakan pemberdayaan perempuan dengan mencontoh “tiga kepribadian sosok pembatik” sangat diperlukan. Perempuan masa kini hendaknya menengok kearifan lokal yang begitu dekat,sebuah ceritera perempuan pembatik yang begitu dihargai karena kepribadian dan karyanya. Sehingga, persis seperti apa yang dikatakan Gandhi, tidak ada alasan dan ruang bagi perempuan merasa tersubordinasi. Perempuan adalah istimewa….


Memperingati Hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober yang lalu memberikan koreksi kembali bagi permasalahan pemuda saat ini. Higgins Ronald menyebutkan masalah yang dihadapi manusia saat ini dalam buku “The Seventh Enemy.” Salah satunya adalah kadar kesadaran yang rendah, khususnya dalam memecahkan tantangan permasalahan secara sungguh-sungguh. Artinya, dorongan semangat urgensi yang mendesak kian terkikis. Tak dipungkiri, masalah ini pun menyerang generasi muda kita. Semangat, jiwa, pemikiran mereka tengah dijajah.
Selama satu jam aku menunggu di peron stasiun. Kadang mencoba berdiri, berkeliling mencoba mengusir rasa gelisahku. Sesekali kulirik petugas berseragam biru disana, tampaknya ia paham bahwa aku menunggu seseorang dengan resah.
Dia memandang kami sejenak, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Membuka spidol tinta biru yang ia pegang, dan menuliskan sebuah kata di depan dengan huruf kapital : DIALOGUE. Sejenak kami belum paham maksudnya. Tapi dia menunjukkan clue, akhirnya kami tersadar dan mengeja kata yang ditulis olehnya : dia… lo.. gue..“
The Times Higher Education – QS World University Rankings, lembaga independen internasional yang dibentuk oleh koran The Times, Inggris menempatkan Universitas Indonesia pada posisi ke-201 tingkat dunia. Berita gembira ini dipublikasikan oleh The QS pada 9 Oktober yang lalu. Mendengar peringkat kelas dunia, terbayang bahwa kampus ini mampu menerima tantangan parameter yang ditetapkan oleh pendidikan modern.
Bus kota berjalan meliuk-liuk membuat badan geli. Berkali-kali senyum mengembang karena menyaksikan pemandangan yang dirindukan. Rindangnya hutan jati, dinginnya hawa menerpa pipi. Kanan kiri terlihat rumah berteras yang menggelar gabah untuk dikeringkan. “Wah.. ndeso tenan..” gumam si Budi sambil terkekeh. Ia sangat menikmati perjalanan mudik lebaran untuk bertemu keluarga di kampung.
