Feeds:
Tulisan
Komentar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!
Alhamdulilah, memasuki pertengahan Januari 2010 sangat menggembirakan, termasuk terselenggaranya acara  penyerahan apresiasi bergengsi dari Cahaya Mata dan Hati Foundation.

Pada hari ini, saya dengan tulus dan sepenuh hati memberikan Penghargaan “Nuraini Award” kepada orang-orang yang telah menginspirasi hidup saya pada usia 20 tahun.Penghargaan ini diperoleh melalui seleksi hati yang ketat, dan penilaian pribadi dengan melihat karya yang dihasilkan. Mereka menyumbangkan pemikiran,ilmu, motivasi,semangat,senyum,dan agenda tertawa saya.

Acara ini merupakan salah satu program dari CMDH Foundation, disamping Nuraini Fellowship Award tanggal 1 Mei mendatang, bertepatan dengan hari lahir saya. Kemudian program NurainiVacation, Nurainijava,serta  Nurainidea.

Nuraini Award yang pertama merupakan acara berkesan di awal tahun ini, semoga penerima apresiasi sederhana ini akan selalu mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT dan orang-orang disekelilingnya. Semoga tetap  menjadi Cahaya Mata dan Hati yang memberikan manfaat dan menerbitkan inspirasi kepada orang banyak…

Nuraini Award 2009

Bismillahirrahmanirahim,
Nuraini Award Kategori Muslim Academic of the Year 2009
Untuk mencapai puncak gunung, kadang kita harus melewati semak belukar, onak dan duri, jurang curam, dinding terjal,, sungai berliku, bahkan binatang-binatang buas. Yang penting jangan panik, karena kepanikan menyebabkan kita tidak mampu membaca peta dan kompas, bahkan tidak bisa melihat sandi serta rambu-rambu alam semesta..(disampaikan dalam pesan pendek untuk memotivasi)

And, the award goes to : Abdullah Muadz, Academic Council of Assyifa Boarding School for Muslim Academic Award Year 2010

Nuraini Award Kategori Creative Lecture of The Year 2009 :

Kunci menulis dengan baik adalah menjaga pikiran agar tetap jernih. Sebenarnya, arah mata angin itu ada lima. Utara, selatan, timur,barat serta arah dimana anda berpijak.” (disampaikan dalam kuliah Artikel Opini semester 5)

And the award goes to : Ed Zoelverdi, Journalism Lecture in University of Indonesia for Creative Lecture of The Year 2009

Nuraini Award Kategori Inspiring  Youth of The Year 2009
”..cinta pada ilmu pengetahuan adalah bentuk kecintaan pada Sang Khalik.Ilmu pengetahuan dan kejujuran itu senantiasa berbicara pada umat manusia, bukan hanya pada satu generasi saja, tapi pada umat manusia dari semua generasi. (dalam tulisan fiksi: Aku bicara untuk Generasimu, Maria!)
And, the award goes to…
Hokky Situngkir, President of Bandung Fe Institute for Inspiring Youth of The Year 2009

Terimakasih untuk kehadiran penerima Nuraini Award di blog ini,semoga tetap semangat dan terus berkarya. Jika ada kesempatan, maka saya akan memberikan langsung Nuraini Award yang tak terduga bentuknya…
Sampai jumpa di Nuraini Award tahun depan, dan nantikan Nuraini Fellowship Award awal Mei 2010..

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wabarakatuh

President of Cahaya Mata dan Hati Foundation,

asri nur aini

Indonesia dalam Opera van Java

Tayangan yang ditunggu di tiap jam utama atau prime time ini menyuguhkan hiburan yang lain dari biasa. Minat masyarakat terhadap konsep baru cerita komedi bernama Opera van Java terbilang cukup tinggi. Saat ini, Opera van Java menjadi agenda domestik bagi keluarga. Di sisi lain, OVJ merupakan salah satu produk industry budaya yang mencoba mengambil tantangan globalisasi media, yang berimbas pada banyak gejala terutama persoalan budaya Indonesia.

Mengemas kesenian tradisional yang dibuat pop memang bukan fenomena baru bagi pertelevisian negeri kita. Sejak media komersial merajai cultural industry, kita disuguhkan acara hiburan baik lenong, ketoprak, ludruk, wayang dengan konsep baru yang memikat dua generasi, tua dan muda. Berbicara media komersial, maka bukan berarti acara ini dibuat semata-mata beritikad baik melestarikan budaya tradisional. Kesadaran pentingnya memahami mekanisme pasar akhirnya menggagas ide baru bagi industry media, yakni bagaimana mencipta konsep yang dapat meraih keuntungan besar. Yaitu, acara hiburan harus dapat dipahami segala usia dan diminati semua kalangan. Akhirnya, acara hiburan komedi masih menjadi jagoan yang mampu menjawab kedua permintaan tersebut.

Kendala awal adalah selera hiburan yang berbeda antara dua generasi. Konsep ketoprak asli tidak dianggap menarik bagi generasi muda, yang justru diminati bapak-ibu dan kakek nenek kita. Kendala pertama, yakni rasa tidak betah anak muda dalam menyimak lakon legenda masa lalu karena dialog yang sulit dipahami. Kedua, selera musik yang terlanjur dianggap kuno yang tidak mampu merepresentasikan jiwa kemudaan saat ini, yang dimainkan oleh alunan gamelan dan lagu tradisional yang dibawakan sinden. Bertolak dari konsep semiologi, disini terjadi masalah pada sistem penanda meliputi bahasa dan musik bagi dua generasi ini. Untuk itu, media komersial akhirnya memberi perhatian terhadap persoalan ini.

Pemecahan Opera van Java terhadap kedua permasalahan ini akhirnya mencetuskan musik dwi warna (semacam pastiche campuran antara musik pop nasional dengan musik tradisional) baik dalam bentuk dan pola music maupun gaya menyanyi atau bahasa. Sinden dibuat layaknya vokalis yang menyanyikan lagu pop yang diminati kaum muda. Tabuhan gendang, dentingan saron, dan tiupan suling menjawab kerinduan bagi generasi tua terhadap seni tradisional. Nilai lebih juga tampak manakala artis idola bagi kaum muda mengenakan pakaian tradisional, dan berdialog drama dengan latar romantisme tempo dulu. Inilah sebuah padu padan yang menyelaraskan selera dua generasi.

Selanjutnya adalah perihal bahasa yang menjadi pakem bagi kesenian tradisional Jawa, yang mau tidak mau menggunakan bahasa daerah. Tentu saja konsep ini tidak bisa dipertahankan bagi media komersial. Artinya, pasar hanya bisa menjangkau suku tertentu, sementara konsep economic of scale menyatakan bahwa produk yang dihasilkan harus merangkul massa yang luas guna meraih profit yang besar. Sehingga, dialog yang menjadi pengantar acara Opera van Java menggunakan bahasa Indonesia, yang mampu dipahami oleh jutaan pemirsa tanah air. Akhirnya, permasalahan mengenai kelompok usia dan kalangan tertentu akhirnya dapat diatasi oleh media komersial.

Kita tak bisa memungkiri, pengaruh globalisasi menjadi niscaya,dan kesenian tradisional pun mendapat imbasnya. Seni yang terobyektifasi oleh mekanisme pasar menjadi suguhan bagi kita. Ada bagian-bagian yang terasing (alienasi) karena sudah tidak laku lagi. Sebagai contoh, estetika nada, melodi, syair dari tembang yang seharusnya dibawakan para sinden. Lagu-lagu tradisional Jawa diubah menjadi lagu pop khas bentukan perusahaan multinasional, yang sedang trend, atau sudah populer bagi kaum muda. Jika kekurangan stock lagu pun, boleh mengambil lagu barat yang diaransemen sedemikian rupa. Akhirnya, kita pun tak sempat mengenal nuansa yang telah diciptakan sang seniman yang mencipta kreasi tradisional ini secara murni. Alienasi yang terjadi sudah jelas terlihat, karena konsep yang baru telah mengasingkan suatu tata cara sebuah kesenian drama tradisional bernama ketoprak. Penghayatan yang dilakukan artis terhadap karakter tokoh tertentu tidak lagi menjadi penting. Improvisasi sang actor secara tiba-tiba pun diperbolehkan, cukup dengan solusi peleraian dari dalang. Peran dalang yang duduk, membimbing penonton untuk hanyut dalam cerita juga diubah. Dalang yang membuat keanehan dan melenceng dari hal yang menjadi “aturan“ peran seorang dalang justru menjadi hal yang ditunggu penonton. Lanjut Baca »

Kontestasi Kaum Alit

Kontestasi Kaum Alit

Tak bisa dielakkan, penentu kebenaran masih menjadi privelege penguasa politis. Selama ini kita banyak menyaksikan peristiwa dan membentuk realitas di pikiran kita melalui media, yang disebut dengan imagologi. Kebenaran yang ada di benak dan pikiran kita bisa jadi hanya hasil dari dikte para penguasa. Menulis sejarah imperialisme bahkan menjadi pekerjaan rumah para pemegang kekuasaan politik, sampai-sampai masyarakat tak mampu lagi membedakan kondisi terjajah atau merdeka. Era Orde Baru mencoba menekan segala kemungkinan kontestasi kaum elit dan alit, terutama lewat media massa.

Dalam kalimat sederhana, kontestasi merupakan pertarungan berbagai macam kelompok, masing-masing memperjuangkan ideologi, nilai, solusi, dan lain sebagainya. Wacana, atau diskursus akan selalu dibuka, bermunculan pula berbagai perbandingan yang mengundang debat, maupun konflik. Rezim Orde Baru memang sangat berhati-hati terhadap kebebasan informasi. Seperti yang dikemukakan Althusser, bahwa media dijadikan aparatus negara untuk mentransmisikan ideologi dominan. Akibatnya, suara publik yang ingin berkontestasi ditekan sedemikan rupa, baik secara formal maupun informal.

Perjalanan dramatis sebuah pertarungan, cepat atau lambat akan menemukan momentum datangnya sang pemenang. Mencetuskan reformasi dari rakyat merupakan salah satu gerakan politik yang dijadikan puncak dari kontestasi antara rakyat dan penguasa. Hal tersebut merupakan sebuah diskursus yang diciptakan oleh kaum alit tanpa bantuan media massa yang signifikan. Bisa dibayangkan, kala itu pejuang reformasi bertaruh membuka wacana, ditengah ketidakadilan akan kebebasan berpendapat dalam media.

Sekarang kita menerima keadaan yang disebut tsunami informasi pasca reformasi. Kehadiran media massa diminta berperan sebagai representasi empirik yang terjadi di masyarakat. Kontestasi berikutnya diharapkan menjadi lebih cepat mencapai momentum karena jeruji media otoriarian sudah runtuh.

Saat ini kita telah melihat berbagai situasi gerakan politik luar parlemen yang tampak terbuka melalui media massa. Fungsi kontrol sosial yang diharapkan kaum konservatif kepada media massa akhirnya mulai menggeliat. Sebagai contoh, simbol kontestasi cicak-buaya mampu diangkat oleh media, dan dijadikan agenda watchdog di ranah politik. Perseteruan dua lembaga yang sama-sama menginginkan penegakan hukum di negara kita akhirnya terpecahkan di tempo waktu yang tak terduga, terungkap demikian cepat jika dibandingkan dengan kontestasi dengan berbagai muslihat pemegang politis di masa Orde Baru. Bahkan kepuasan muncul dari banyak kalangan, sampai-sampai ada yang menyebutkan bahwa kriminalisasi ini terlalu jorok, tidak bisa ditata rapi seperti halnya “ketelatenan“ politisi Orde Baru yang lihai mengendap kebusukan. Lanjut Baca »

Perempuan adalah Istimewa

Perempuan Indonesia

Perjalanan Kognitif….

Perjalanan perempuan dalam menyumbangkan peradaban tampak pada sejarah batik Indonesia. Anggun, istimewa.Karya abadi yang dihasilkan melalui proses kognitif dan penjiwaan perempuan. Batik adalah hasil dari suatu pergerakan yang berangkat dari kesadaran yang positif, mengenai kelebihan perempuan yang sangat spesial. Mereka tidak merasa tertindas, mereka bergerak dengan karya dan bersuara. Sejalan dengan apa yang dikatakan Mahatma Gandi  : ” There is no occasion for women to consider themselves subordinate or inferior to men.”

Kita banyak menjumpai berbagai kampanye, seruan, seminar, atau -istilahnya-pencerdasan untuk perempuan. Tema yang diangkat  antara lain kekerasan perempuan, kriminalisasi  perempuan,ketidakadilan, dan sebagainya. Ada pula yang menyelenggarakan lomba fotografi, poster,esai dengan kepentingan menyebar isu mengenai kebebasan dari ketertindasan. Fenomena ini sudah sangat lama dan berulang, bagaikan  tema seasonal story. Kelemahannya,  cerita bermusim ini tidak pernah menemui beda. Berulang, diiringi kepenatan penantian suatu jawaban yang mencerahkan.

Ada baiknya bila kita membaca jejak romantis perempuan masa lalu. Sangat baik kiranya kita meletakkan sikap positif, rehat dari rasa was-was akan ancaman penindasan yang sering digaungkan. Karena bisa jadi itu sekedar self fulfilling prophecy, bayangan buruk yang terjadi karena dibuat oleh pemikiran kita sendiri.

Cerita perempuan masa lalu, yang diklaim sebagai kisah kasur, dapur, sumur,seolah tidak memiliki daya kegemilangan menghasilkan karya. Sebagian orang mungkin tertawa akan peran domestik tersebut,percaya bahwa cara demikian yang menyebabkan perempuan tidak pernah maju.Ternyata,jika kita mau menengok produktivitas perempuan pada masa lalu, bisa jadi kita terperangah,dan menggugat apa yang pernah dihasilkan perempuan peradaban masa kini. Lanjut Baca »

Anak Muda Dunia Ketiga

Anak Muda Dunia Ketiga


Pertama, Meninggalkan Mainan Layangan

Sekitar kita, adalah fenomena. Perhatikan, seorang anak muda memandang jalanan memegang puntung rokok sambil jongkok, memakai jeans, dengan celana boxer sengaja diperlihatkan. Alas kakinya bertali, sudah kotor, jarang dicuci. Kadang ia mendengarkan music lewat walkman, atau memegang ponsel, dengan lincah ber-sms. Bagi perempuan, anda terbilang kurang beruntung kalau sempat digoda oleh mereka. Ya, mereka disebut anak layangan.

Terkadang kita tidak habis pikir mengenai “perbuatan“ media kepada kita. Kalangan penganut teori kritis dependensia akan selalu menyalahkan media massa sebagai rising of frustation bukan rising expectation seperti yang dinyatakan oleh kalangan modernis. Banyak orang frustasi termakan tuntutan mengenai gambaran orang modern. Mereka harus melewati masa-masa primitif, the passing of traditional society.

Ada karakteristik modern yang diciptakan orang Barat, yakni pendidikan tinggi, kemampuan berbahasa asing, cara berpakaian, perilaku, dan profesi. Tapi sayangnya, sebagian orang menggunakan langkah instan, yakni mendahulukan indikator gaya penampilan modern lewat cara berpakaian. Bisa jadi hal tersebut cara yang paling enak, berdampak langsung, dan didapat melalui cara mudah. Mereka lupa indikator orang modern atau gaul lainnya, yang justru lebih mengangkat harkat manusia

Adorno menyebutkan bahwa media massa adalah sarana mediasi ideologis yang menterjemahkan ideology hegemonic ke dalam kesadaran masyarakat sehari-hari. Fungsinya, adalah sarana pengaturan tidak langsung yang merupakan kekuatan yang dahsyat bagi kohesi dan stabilitas sosial. Apa boleh buat, media di negara kita lebih banyak memberikan hegemoni kapitalis yang materialis, bersifat kebendaan, yang pada akhirnya mendorong perilaku konsumtif. Tapi apa daya, banyak masyarakat Indonesia tak mampu meraih benda mewah, yang “kata media” harus dimiliki orang modern. Maka, selamat tinggal pula layang-layang, itu hanya permainan bodoh yang harus ditinggalkan. Dan selamat datang fenomena anak layangan, mereka bekerja keras mencari uang hanya untuk berpenampilan, barang mewah  bajakan, yang dijual di lapak-lapak pinggir jalan

Kedua,  Resistensi yang Unik

British Punk atau anak layang versi Inggris muncul karena perlawanan akan kemiskinan, kemunduran, dan pengangguran di Inggris. Hebdige (1979) menyatakan, kelompok ini melakukan protes dengan mengubah penampilan mereka. Mereka memberontak dengan mengubah gaya rambut, membuat lencana-lencana dan graffiti di pakaiannya. Ini yang disebut mereka sebagai sikap resistensi

Lain halnya dengan Indonesia. Penampilan anak layangan bukan bentuk perlawanan terhadap kondisi Indonesia yang bobrok. Mereka tak ingin tahu masalah politik atau  kendala ekonomi negara. Mereka hanya melawan akan nasib hidupnya dengan cara mengikuti apa yang disarankan oleh media, terutama melalui majalah yang dibaca dan ,tontonan, yang disimak. Mereka belajar cara gaya gaul melalui media yang salah.

Apa yang terjadi selanjutnya, yakni keinginan untuk eksis, dikenal masyarakat. Mereka membuat kreativitas buatan sendiri, bahkan menciptakan bahasa sendiri. Mungkin kita pernah membaca pesan pendek di ponsel yang sengaja atau tidak sengaja dikirim untuk kita. Ada kata xlian,xlo,m4aph, 4tw,9m4n4  untuk mengganti kata kalian, kalau, maaf, atau,bagaimana. Bentuk perlawanan dengan membuat identitas diri  memang lazim ada dalam fenomena subkultur.

Ketiga, Terbuai dengan Musik

Semiologi, menurut Roland Barthes bisa berupa apa saja, baik gambar, tingkah laku, bunyi musik, maupun kombinasi ketiga hal tersebut. Musik merupakan “bahasa yang tekstual dan memiliki sifat estetik, oleh karenanya bersifat relatif. Tiap orang dapat  menyukai bunyi musik yang berbeda. Begitupula  lirik dan selera musik anak layangan. Mereka sering membahasakan perasaan lewat musik, dengan kata-kata denotasi yang mudah kita tangkap. Mereka biasa bernyanyi terkait dengan problematic youth, mencari cinta, tidak ingin didominasi, idealisme kaum muda.

Musik yang mereka ciptakan bukan musik rapp pencerdasan seperti halnya rapp yang dibuat sebagai bentuk resistensi terhadap diskriminasi kalangan kulit hitam. Musik yang mereka ciptakan tak lagi serupa Iwan Fals, atau alm Benyamin sebagai bentuk cerdas menyindir pemerintah. Kini lebih banyak lagu membuai seperti virus  yang memacetkan kesadaran  melawan atas penindasan. Anak layangan, kelompok kecil yang marjinal, kehilangan kesadaran atas apa yang ia butuhkan, terlarut akan kesadaran palsu yang dibuat media…

Fenomena ini….

Lebih besar dari kasus Manohara untuk diminta kembali ke pangkuan suaminya

Lebih sakit dari sakit hati Anang karena ditinggal Krisdayanti

Lebih membuat dongkol Indonesia dibanding rasa kesal atas perselingkuhan Tiger Woods dengan tiga belas perempuan

Dan inilah potret kaum muda negara ketiga….

Kekhawatiran masa depan…

Depok, 18 Desember 2009

Cerita Pekan Ini

Bismillahirahmanirrahim,

Let me sing my mind

Partner Baru

Alhamdulilah, teman. Sudah seminggu saya bersama Muhammad Hafidz, partner setia yang menemani pagi hingga menjelang tidur. Haa… laptop warna hitam ukuran 10 inchi ini begitu istimewa bagi saya. Dia dipanggil Hafidz,  hapal  materi kuliah, teori komunikasi, MP3, tentu saja hapal Quran 30 juz. Yeah, selamat datang Hafidz, kita akan menjalani banyak peristiwa bersama yaa (huaaa!!).:P Istighfar mbak!

Pertama kali saya membawa dia, dan memperkenalkan namanya, semua akhowat spontan berteriak: Gyaa!! Suami lo? . Saya jawab : “ya nih. Terancam disentuh banyak akhowat! Belum lagi foto-foto bukan mahram yang disimpan. Halah!”. Gawat juga nih, beberapa orang memanggil saya bukan nama Asri, tapi si Hafidz

Buku FSQ ketemu!

Buku Financial Spiritual Quoetient yang saya pinjam di perpus MUI akhirnya ditemukan mas Office Boy Gedung H lantai 2.  Sebelumnya saya sangat  panik, terancam denda 80 ribu karena berhasil menghilangkannya. Asumsi saya tertinggal di mushala. Setelah 2 minggu waktu berlalu, saya menulis pengumuman karena kemungkinan tertinggal di kelas, eh ternyata iya.

Bingkisan dari KISPI

Selain FSI, saya ikut Kelompok Studi (Studi Group) Al Hikmah Research Centre disingkat ARC . Kamis, 3 Desember 2009 saya menghadiri acara Kajian Ilmiah Sosial Politik Islam. Hari itu rangkaian acara terakhir, kajian tentang Negara dan Islam. Terkejut,karena pada akhir acara   saya dipanggil ke depan untuk menerima apresiasi Peserta Terbaik Studi Group yang berjalan hampir satu semester ini. Aduh, ada-ada saja anak-anak ARC.

Em.. materi yang sudah kami diskusikan selama ini antara lain tentang si Amina Wadud seorang feminis, Masalah Refugee, Esklusi Sosial dan Sistem Negara Demokrasi, Epistimologi Islam, Review Film The Secret, Energy Security, Career Path, Solusi Kemiskinan Indonesia, Media dan Representasi, apa lagi ya? Saya lupa, he! Lanjut Baca »

Membicarakan transportasi, tentu sama “elite”nya ketika berbicara masalah teknologi informasi, komunikasi,energy security, dan lain sebagainya. Transportasi bicara hajat hidup orang banyak. Transportasi memiliki permasalahan, tantangan, dan masa depan.Hal ini masuk dalam agenda penting, dikuatkan dengan pendapat bahwa kondisi transportasi mencerminkan sikap dan budaya suatu bangsa.Sayang sekali,  ternyata agenda penting tersebut tidak didukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni. Salah satunya “menimpa” kereta api di Indonesia. Data dari situs Kereta Api Indonesia, ternyata pegawai lulusan Sekolah Dasar nyaris mendominasi.

Jika kita mau menyadari, ternyata ladang bergengsi di bidang kereta api sangat banyak. Kereta api membutuhkan  tenaga terlatih,tidak main-main. Tidak jauh beda dengan pegawai telekomunikasi yang mengutamakan kecepatan dan pelayanan.Aspek yang menjadi tanggung jawab layanan kereta api  juga sangat besar. Sebagai contoh,keterlambatan jadwal kereta bisa saja mengakibatkan situasi fatal yang tidak dapat ditoleransi bagi ribuan karyawan yang berangkat kerja menggunakan jasa kereta.

Selain kebutuhan tenaga terlatih serta pelayanan dengan tanggung jawab besar, disana pula akan bergabung banyak investor.Wilayah stasiun yang strategis memungkinkan adanya pertokoan yang menjual makanan, minuman, maupun cenderamata.Kemudian,  fasilitas penunjang bagi para penumpang, seperti media telekomunikasi,sarana ibadah,  kamar kecil nyaman dan bersih, yang memungkinkan investor melirik dan menanamkan modalnya. Tidak ketinggalan, kereta api membutuhkan tenaga untuk pemberdayaan masyarakat (community development) guna memecahkan  permasalahan seperti pengamen, pedagang asongan, dan pengemis di stasiun dan di dalam kereta.

Selain mencermati kebutuhan, kita juga menemui permasalahan. Melalui pengamatan,  setidaknya ada beberapa permasalahankereta api. Pertama, armada kereta ekonomi yang tidak mencukupi jumlah penumpang. Padahal, butuh perhatian 59% terhadap kereta ekonomi, dibanding kelas eksekutif dan bisnis. Kedua, persoalan mengenai keamanan.Pengelola tentunya tidak mau dirugikan oleh penumpang gelap tiap harinya. Begitupula, tidak membiarkan grafik kriminalitas terus naik. Ketiga, kurangnya kedisiplinan pengelola. Semua permasalahan tersebut membutuhkan manajemen terarah. Lanjut Baca »

Banjir Souvenir Masa Depan?

Manusia memiliki akal untuk dapat memprediksi masa depan dengan mempelajari gejala yang terjadi saat ini. Ketika menemukan ancaman, maka sikap bijak yang diambil adalah melakukan strategi agar terhindar dari bahaya ancaman tersebut. Bencana banjir ibarat “bintang tamu” yang selalu dibayarkan APBD karena rutin hadir dalam acara tahunan Jakarta. Padahal banjir lebih dari ancaman, besar kemungkinan ia datang dengan bahaya yang lebih mengerikan. Dan disinilah kita akan  bicara mengenai kekuatan alam.

Pada tahun 2007 terdapat 99 lokasi genangan banjir. Berikutnya, Jakarta diterjang banjir akibat air laut teluk Jakarta yang menyebabkan terputusnya jalur tol menuju bandara. Pada tahun ini, jumlahnya bertambah menjadi 169 genangan karena drainase buruk.

Kita bisa membayangkan, dalam waktu yang bersamaan hujan datang di saat 144 situ dalam kondisi rusak dan 49 sedang mengalami perbaikan. Tidak dapat dicegah lagi, banjir akan hadir untuk ke 351 kalinya terhitung sejak jaman kolonial.

Masih lekat di ingatan, tragedi Situ Gintung yang muncul tiba-tiba seperti tsunami yang menghantam dari darat. Tak terduga jumlah kerugian material yang diderita. Musibah semacam ini ibarat bom yang akan meledak sewaktu-waktu, jika kerusakan alam dibiarkan tanpa perbaikan. Bencana yang sangat mungkin menenggelamkan ribuan rumah, ternak, properti, lahan pertanian, melumpuhkan industri, listrik, komunikasi. Ironisnya, jumlah kerugian ditambah anggaran bantuan  bencana  bisa digunakan untuk pembuatan kanal baru.

Agaknya, memang alam sedang bermasalah dengan manusia. Ada alam, dan manusia. Alam berkehendak sebagaimana cara manusia memperlakukannya. Keunikannya, ia memiliki konsistensi. Perlakuan baik terhadapnya, maka  alam akan membantu manusia. Berbeda dengan manusia, diperlakukan baik belum tentu balas jasanya sepadan.

Manusia hasil didikan sistem buruk ibarat anak kecil yang menganggap mainan mobil yang di tangannya itu dapat dipermainkan sekehendak hati menurut persepsi dirinya.  Ketika baterai mobil mainannya mati, ia tetap memaksa agar tetap jalan, entah didorong atau diseret. Tapi, tingkah lakunya itu menimbulkan kerusakan pada mobil mainan, karena putusnya kabel yang menjadi penghubung roda ke pusat penggeraknya. Akhirnya, mobil rusak dan tidak lagi dapat berjalan dengan tenaga baterainya.

Tampaknya, keadaan situ  dan 13 aliran sungai di Jakarta sebagaimana ilustrasi diatas. Kita bisa bertanya, berapa tahun lagi jatah usia Jakarta. Melihat baterai yang dimiliki nyaris kehilangan fungsinya. Jika alam sudah Dispereert, Lanjut Baca »

Memperingati Hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober yang lalu memberikan koreksi kembali bagi permasalahan pemuda saat ini. Higgins Ronald menyebutkan masalah yang dihadapi manusia saat ini dalam buku “The Seventh Enemy.” Salah satunya adalah kadar kesadaran yang rendah, khususnya dalam memecahkan tantangan permasalahan secara sungguh-sungguh. Artinya, dorongan semangat urgensi yang mendesak kian terkikis. Tak dipungkiri, masalah ini pun menyerang generasi muda kita. Semangat, jiwa, pemikiran mereka tengah dijajah.

Faktor yang sangat mungkin menjadi penyebab adalah media massa liberal, yang memberikan tayangan low brow atau selera rendah. Kita bisa amati dalam kehidupan remaja sehari-hari. Ada yang lebih ingat alur cerita sinetron daripada materi sejarah yang diberikan kemarin, mahir menebak judul lagu dan menghapalkannya dengan mudah, bahkan paham benar mengenai kehidupan dan gossip para artis. Selain itu, obrolan akademis saat jam istirahat di sekolah dianggap aneh. Media massa , seperti televisi, tak sedikit yang menyebar penyakit, tak lain adalah pandangan harga diri (self esteem) materialistis dalam sinetron, “ajaran” instan dan pragmatis dalam tayangan kuis dan ajang pencarian bakat. Padahal, perbincangan entertainment seperti reality show maupun gossip dianggap selera rendah bagi bangsa yang maju. Sadar atau tidak, ini adalah penyakit yang harus disembuhkan.

Mc Clelland menyebutkan bahwa media massa modern idealnya berfungsi sebagai motivasi berprestasi atau needs for achievement. Schramm berpandangan bahwa media dapat menebar gagasan,inspirasi, dan  memberikan horizon  mengenai banyaknya pilihan hidup. Lanjut Baca »

Ini Langkahku

Awali Hari

Awali Hari

Jam digital sengaja dipercepat sepuluh menit. Pagi hari aku biasa bergegas menutup pintu kamar kostan, mengucap salam untuk berangkat kuliah. Ibu kostku yang ramah selalu menjawab “hati-hati..: atau berpesan jangan kemalaman. Suaminya juga berpesan agar hati-hati menyeberang. Aku berusaha mengawali hari dengan menyapa mereka sebelum berangkat.

Langkahku pun berlanjut, kadang melirik kaca jendela rumah, apakah jilbab dan pakaian sudah rapi. Sambil tersenyum sedikit di kaca jendela rumah lain. Aku biasa mengenakan gamis, kerudung ukuran panjang, tas punggung warna hijau tua, dan sepatu kain yang ringan.

Pasti banyak orang yang kutemui di sepanjang jalan. Ada ibu yang tak kukenal, kami saling senyum. Kemudian dia menyapaku duluan, “Berangkat neng?”. Kemudian aku bisa memberi salam penjaga toko Pak Haji yang duduk-duduk di depan. Di tempat itu aku membeli nasi bungkus, lebih murah,  dan kalau boleh menilai, memang lebih enak. Toko itu selalu kudatangi untuk membeli snack murah seharga Rp.500 untuk sekedar membuat mulutku berisik.

Aku mengambil langkah lagi, lima meter melangkah, aku lewat gerobak mie dan nasi goreng. Buka tiap malam,. Aku mengenal penjualnya, Mba Atun yang sering membuatkanku mie rebus porsi yang banyak untuk seharga enam ribu rupiah. Aku sempat cerita banyak dengannya, terutama soal makanan berikut harganya, pernah pula ia tanpa sungkan bercerita tentang keluarganya.

Tiga menit sudah, aku lewati pula warteg dengan etalase yang memajang lauk pauk, masih ada pula sayur yang melampaui wadahnya. Tahu, tempe, ayam, perkedel, ditata rapi di piring-piring kaca. Aku melihat beberapa pemuda, tampaknya mereka mahasiswa sedang sarapan pagi, dan tengah asyik bercakap. Kuperhatikan  area ini memang banyak mahasiswa putera, tapi syukurlah bukan orang -orang usil yang berkelompok sambil main gitar.

Aku kembali meneruskan perjalanan. Jalan agak menanjak, kadang kesusahan karena tasku penuh dan membuat langkahku  sedikit berat. Aku mengambil langkah panjang, lalu masuk berbelok gang sempit, Biasanya aku bertemu nenek, dan kami saling menyapa. Pagi-pagi ia sudah duduk-duduk di teras rumah. Benar saja, si nenek yang biasa memakai daster itu sudah asyik bercakap dengan tetangga. Aku tersenyum kearahnya, dan ia menganggukkan kepala. Cuma lima langkah, aku lewat mushola bercat hijau d gang sempit ini. Aku sering mendapati kondisi tempat ibadah ini sepi. Terakhir ramai saat Ramadhan lalu, banyak yang datang kajian dan shalawatan. Lanjut Baca »

Satu Jam untuk Hafidz

cinta-love-salju-biruSelama satu jam aku menunggu di peron stasiun. Kadang mencoba berdiri, berkeliling mencoba mengusir rasa gelisahku. Sesekali kulirik petugas berseragam biru disana, tampaknya ia paham bahwa aku menunggu seseorang dengan resah.
Aku duduk ,menyilangkan kaki, merogoh ponsel yang ada dalam tas tangan. Kulihat jam berapa sekarang, hampir senja aku menantinya. Pikiranku kembali tak menentu, dan aku kembali menekan tombol, meneleponnya. Kudekatkan ponsel ke telinga, tapi hal yang sama terulang : tidak ada koneksi. Sekarang aku menyerah.

Kali ini aku mencoba menghibur hati. Kuambil sebuah mushaf kecil dalam kantong tas, ini adalah hadiah pertama darinya. Aku sangat ingat, benda itu bukan dibeli baru di toko buku, melainkan pemberian seorang ustadz untuknya, dan kini ia merelakannya untukku. Saat itu, tanpa basa-basi aku langsung terisak. Aku tersenyum sembari merasakan hangatnya air mata di pipi yang terus mengalir. Tapi ia tidak pernah tahu dalamnya perasaan ini. Ia hanya menggenggam tanganku, menepuk bahuku saja.

Mushaf itu aku baca. QS Ibrahim ayat 7, ayat yang selalu mengingatkan aku pada kesabarannya. Aku membaca ayat seterusnya, melantunkan satu persatu ayat yang menenggelamkan rasa gelisahku. Namun aku tidak bisa menyembunyikan rasa takut. Dan kerudung putih lalu basah oleh setetes air mata yang menitik. “Aku tidak boleh cengeng di hadapannya.” batinku. Diriku, selalu menebar ketenangan, kegembiraan, bukan keadaan cengeng yang mengharu biru. Segera aku menanggalkan kacamata, mengusap air mata. Lanjut Baca »

Manusia dan Dialog

img1Dia memandang kami sejenak, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Membuka spidol tinta biru yang ia pegang, dan menuliskan sebuah kata di depan dengan huruf kapital : DIALOGUE. Sejenak kami belum paham maksudnya. Tapi dia menunjukkan clue, akhirnya kami tersadar dan mengeja kata yang ditulis olehnya : dia… lo.. gue..

Dia duduk kembali, “Anda melibatkan banyak orang dalam menulis..”

Sampai detik ini, aku mengingat dan mencoba menangkap lebih jauh makna ini. Apa yang dia katakan tentang dialogue. Lanjut Baca »

gogframesThe Times Higher Education – QS World University Rankings, lembaga independen internasional yang dibentuk oleh koran The Times, Inggris menempatkan Universitas Indonesia pada posisi ke-201 tingkat dunia. Berita gembira ini dipublikasikan oleh The QS pada 9 Oktober yang lalu. Mendengar peringkat kelas dunia, terbayang bahwa kampus ini  mampu menerima tantangan parameter yang ditetapkan oleh pendidikan modern.

Menurut kaum modernis, pendidikan modern tidak lepas dengan pendidikan yang disuguhkan oleh bangsa Barat . Mereka percaya, bahwa kemajuan pendidikan negara berkembang harus mengikuti sistem dan nilai yang ada pada pendidikan Barat jika mau mengejar ketertinggalan mereka. Semua ditiru, dan dicontoh, berharap output yang dikeluarkan seperti pendidikan modern Barat.

Kini tampaknya teknologi informasi yang menunjang pendidikan dapat dijangkau dengan mudah. Negara berkembang tidak perlu susah payah menciptakan komputer, karena sudah bisa membeli produknya dari negara maju. Begitu pula alat laboratorium penunjang pendidikan. Negara berkembang seperti Indonesia bisa meminta kerjasama asing untuk mendapatkan fasilitas tersebut dengan murah. Lanjut Baca »

Ernst Cassier menyebutkan salah satu keistimewaan manusia, yakni animal simbolicum,. Simbol memang begitu erat dengan kebudayaan manusia, mungkin kita hidup digerakkan oleh simbol-simbol, sampai manusia pun disebut makhluk yang identik dengan simbol. Uniknya, tidak ada referen atau hubungan yang jelas dengan objek yang ditujunya. Misalnya, tidak ada hubungan antara peletakan  batu pertama dengan dimulainya sebuah gedung dibangun. Tidak ada kaitan jelas antara gunting pita dengan peresmian sebuah real estate. Seperti halnya hubungan antara sebuah cincin dengan tanda perpisahan, penghargaan, dan akhir masa jabatan. Kemudian ada pin emas  yang dilekatkan untuk anggota dewan 2009-2014. Semua nyaris tidak ada hubungannya, tapi ada makna dibalik simbol tersebut. Pemaknaan itu berasal dari kesepakatan bersama.

Kita masih ingat, pemberitaan di media mengenai anggaran untuk penghargaan bagi anggota DPR lama, dana dikeluarkan sebesar Rp 1,9 miliar. Sedangkan pin bagi anggota dewan baru lebih besar lagi, yakni  Rp 3 miliar. Jadi total untuk perkara ini negara harus mengeluarkan dana hampir Rp 5 miliar. Begitu luar biasanya sebuah simbol, sehingga negara berani mengeluarkan biaya setara untuk bantuan korban bencana alam. Ada apa dengan simbol, sehingga mampu menjadi saingan bagi kepentingan subtansial.?

Barthess  menyebutkan bahwa simbol tidak berdosa, netral, namun memainkan peran sebagai penanda untuk memberikan pesan. Cincin tidak berdosa, tapi apakah maknanya benar-benar sebagai wujud penghargaan sebuah pengabdian? Siapa yang mencetuskannya? Masalah inilah yang disebut Barthess sebagai mitos. Sesuatu yang sebenarnya konotatif, dimana semua orang bebas memaknainya, kemudian datanglah power yang menyatakan bahwa cincin memiliki makna sebagai  wujud penghargaan terhadap pengabdian adalah suatu kebenaran. Selanjutnya,  hal yang sifatnya konotatif akhirnya menjadi denotatif. Orang-orang sepakat, dan akhirnya tunduk, dan mengiyakan : ”cincin memang perlu dibuat. mari anggarkan dananya bersama.” Lanjut Baca »

Ceremonial Deso

Ceremonial Deso


Goyang teruss..

Si Otong duduk setelah selesai di sunat dan terima saja di make up biar ganteng kayak pangeran jaman dulu. Tak lama teman-temannya serombongan datang mengucapkan selamat, memasukkan amplop dari uang patungan yang baru dikumpul di tempat parkiran tamu. Jantungnya deg-degan, cewek-cewek kelas bakal datang. Berkali-kali Otong  meyakinkan diri bahwa dia memang paling ganteng selama beberapa jam ke depan. Pikirannya campur aduk tak karuan lebih stress daripada pas disunat. Tapi akhirnya Ia kembali tenang setelah teman-temannya senang membantai sate ayam, sate kambing ,soto, kambing guling, rendang, rawon, gulai, siomay, bakso malang, pecel, semangka, melon, , anggur, es krim, pudding, soft drink, es campur, dawet,es bensin, perta max, bensol, avtur…..

Semua senang, semua kenyang! Tapi seorang teman Otong tampak kebingungan, dari tadi memegang piringnya saja,belum makan juga, tengok sana sini, lalu bertanya :

“ Tong? Kursinya mana yaaa? “

Otong kaget mendengar pertanyaan itu, malu ada penyajian kondangan yang tak memuaskan, dan bingung juga kenapa tidak ada kursi. Dia lalu jawab sekenanya : “Kayaknya makan tuh pake sendok ma garpu deh? Bukan pakai kursi..?!? Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »