Feeds:
Tulisan
Komentar

Perempuan adalah Istimewa

Perempuan Indonesia?Perjalanan perempuan dalam menyumbangkan peradaban tampak pada sejarah batik Indonesia. Anggun, istimewa.Karya abadi yang dihasilkan melalui proses kognitif dan penjiwaan perempuan. Batik adalah hasil dari suatu pergerakan yang berangkat dari kesadaran yang positif, mengenai kelebihan perempuan yang sangat spesial. Mereka tidak merasa tertindas, mereka bergerak dengan karya dan bersuara. Sejalan dengan apa yang dikatakan Mahatma Gandi  : ” There is no occasion for women to consider themselves subordinate or inferior to men.”

Kita banyak menjumpai berbagai kampanye, seruan, seminar, atau -istilahnya-pencerdasan untuk perempuan. Tema yang diangkat  antara lain kekerasan perempuan, kriminalisasi  perempuan,ketidakadilan, dan sebagainya. Ada pula yang menyelenggarakan lomba fotografi, poster,esai dengan kepentingan menyebar isu mengenai kebebasan dari ketertindasan. Fenomena ini sudah sangat lama dan berulang, bagaikan  tema seasonal story. Kelemahannya,  cerita bermusim ini tidak pernah menemui beda. Berulang, diiringi kepenatan penantian suatu jawaban yang mencerahkan.

Ada baiknya bila kita membaca jejak romantis perempuan masa lalu. Sangat baik kiranya kita meletakkan sikap positif, rehat dari rasa was-was akan ancaman penindasan yang sering digaungkan. Karena bisa jadi itu sekedar self fulfilling prophecy, bayangan buruk yang terjadi karena dibuat oleh pemikiran kita sendiri.

Cerita perempuan masa lalu, yang diklaim sebagai kisah kasur, dapur, sumur,seolah tidak memiliki daya kegemilangan menghasilkan karya. Sebagian orang mungkin tertawa akan peran domestik tersebut,percaya bahwa cara demikian yang menyebabkan perempuan tidak pernah maju.Ternyata,jika kita mau menengok produktivitas perempuan pada masa lalu, bisa jadi kita terperangah,dan menggugat apa yang pernah dihasilkan perempuan peradaban masa kini.

Perempuan dan Batik. Dalam sejarah Indonesia disebutkan bahwa kerajinan tangan tersebut merupakan pekerjaan eksklusif perempuan pada saat itu. Mereka tak meninggalkan aspek vertikal yang  tampak pada  proses spiritual, menggunakan seluruh indera perasa, menjalani proses sarat ritual ruhani. Perempuan Jawa, ada keharusan bisa membatik guna melatih kesabaran, ketekunan,perasaan, dan pikiran. Dikuatkan oleh Hokky Situngkir,sosiolog muda yang mengatakan bahwa batik bukan hanya sebatas mengerjakan keperluan sandang yang bersifat horisontal. Selain itu, batik memiliki unsur sains yang menakjubkan. Sepotong kain batik atau keseluruhannya, ia senantiasa memancarkan pola kesamaan yang merupakan pola geometris yang sederhananya disebut fraktal. Ciri khas geometri dengan hitungan matematis ini  berbeda pakem hitungan peradaban Eropa.

Kisah batik berlanjut dari abad 17 hingga awal abad 19. Batik menjadi primadona komoditi di Nusantara. Perjalanan yang mempesona,dan kutipan menggelitik dari Professor Sujoko (Alm), pakar seni rupa meneguhkan cerita ini:” Pelukis pertama dari Indonesia adalah Perempuan Jawa yang melukis dengan canting di atas bahan tenunannya.” Dan tanggal 2 Oktober 2009 merupakan satu dari sekian kesuksesan peradaban perempuan Nusantara kala itu. Seluruh dunia melalui UNESCO mengakui batik sebagai warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi.

Nilai yang Menghilang

Saat ini kita sedang berbicara tentang subjek aktif di balik mahakarya batik. Pertama, Ia adalah sosok yang berpegang pada nilai, dan paham akan tujuan dan alasan ia bertindak. Membatik bukan sekedar membakar lilin, menggoreskannya dengan canting, atau  mencoret-coret kain sesuka hati. Membatik tak lepas dari kekuatan spiritual, meminta kestabilan, ketekunan.

Kedua, ia menyadari dan percaya akan kemampuannya yang istimewa.Hasilnya, tidak ada satu pun motif batik yang buruk,gagal,semua berkualitas. Bahkan, tak jarang kita menemukan corak dengan kerumitan tinggi.  Contohnya, motif batik tulis Nitik Karawitan, Batik Ciptoning, atau Udan Liris. Hal tersebut hanya berangkat dari kepercayaan penuh akan kemampuan diri.

Dan ketiga,I a mencintai kreativitas,dan kecerdasan. Hal tersebut tampak bagaimana ia menggambarkan kehidupan nyata dengan simbol, menuangkan hasil pengamatan lingkungannya melalui indera yang jeli, dan belajar filosofi melalui karya yang dihasilkannya.  Contohnya corak Udan Liris yang  terinspirasi dari gerimis hujan, menggambarkan simbol kesuburan. Kita dapat menyimak banyak motif unsur alam lain seperti sawat, api, gunung, garuda (burung), ular (naga), daun, bunga,akar, dan sebagainya yang mengandung falsafah berbeda

Tampaknya, ketiga hal tersebut menjadi kekuatan perempuan, bangkit karena kesadaran keistimewaan yang dimilikinya. Namun, seiring perjalanan waktu, nilai tersebut tergerus dan nyaris menghilang. Arus globalisasi dengan gencar mencampuradukkan nilai hingga menghasilkan gejala glokalisasi. Sosok yang memegang nilai, spiritual,dan paham akan tujuan tergantikan dengan ideologi campur aduk,pandangan muka dua, taklid tanpa tahu tujuan tindakannya. Pribadi yang percaya akan kemampuan diri pun berubah,kreativitas macet. Terlebih, budaya konsumtif yang semakin marak seolah menguatkan stereotip perempuan.

Kehilangan nilai-nilai yang dikemukakan diatas diperparah dengan kenyataan bahwa perempuan memiliki peran ganda. Di satu sisi ia memiliki kewajiban mendidik anak dan mengurus rumah tangga, di sisi lain ia harus mendukung kemajuan di lingkungannya. Tanpa tiga kekuatan diatas, maka posisi perempuan modern sangat rentan dengan permasalahan. Seperti yang ditulis Endah Sulilantini, mengutip Asi. S Dipojodjo bahwa  sangat penting  bagi masyarakat untuk melestarikan ketentuan, tata tertib, kebiasaan, tingkah laku dan perbuatan sesuai lingkungan. Karena ini berarti melestarikan irama kehidupan yang sesuai dengan kondrat alam dan cita-cita masyarakat, sehingga tindakan pelanggaran ketentuan-ketentuan tersebut akan mengganggu irama kehidupan masyarakat.

Berbicara dengan karya. Kalimat positif sepertinya menjadi barang langka di negeri ini. Kita tentu lelah dengan protes anti ini itu, dan sangat merindukan energi penyemangat yang mendorong sebuah karya. Kita bisa ambil ilustrasi pembuatan batik. Perempuan memiliki peran dalam ranah domestik, namun kian dihargai karena ia mampu menghasilkan inspirasi dan karya. Ia tidak berdiam diri,dan berpikir positif dan penuh harapan, seperti halnya corak Sidomulyo yang dibuat sebagai simbol kebahagiaan dan kemuliaan sebuah pernikahan, dan corak Ciptoning yang mengharapkan hidup penuh kebijaksanaan.

Rhonda Byrne dalam The Law of Attraction mengingatkan teori perihal berpikir positif yang senantiasa menemukan jalan keluar, dan tercapainya keinginan manusia. Gerakan pemberdayaan perempuan dengan mencontoh “tiga kepribadian sosok pembatik” sangat diperlukan. Perempuan masa kini hendaknya menengok kearifan lokal yang begitu dekat,sebuah ceritera perempuan pembatik yang begitu dihargai karena kepribadian dan karyanya. Sehingga, persis seperti apa yang dikatakan Gandhi, tidak ada alasan dan ruang bagi perempuan merasa tersubordinasi. Perempuan adalah istimewa….

Cerita Pekan Ini

Bismillahirahmanirrahim,

Partner Baru

Alhamdulilah, teman. Sudah seminggu saya bersama Muhammad Hafidz, partner setia yang menemani pagi hingga menjelang tidur. Haa… laptop warna hitam ukuran 10 inchi ini begitu istimewa bagi saya. Dia dipanggil Hafidz,  hapal  materi kuliah, teori komunikasi, MP3, tentu saja hapal Quran 30 juz. Yeah, selamat datang Hafidz, kita akan menjalani banyak peristiwa bersama yaa (huaaa!!).:P Istighfar mbak!

Pertama kali saya membawa dia, dan memperkenalkan namanya, semua akhowat spontan berteriak: Gyaa!! Suami lo? . Saya jawab : “ya nih. Terancam disentuh banyak akhowat! Belum lagi foto-foto bukan mahram yang disimpan. Halah!”. Gawat juga nih, beberapa orang memanggil saya bukan nama Asri, tapi si Hafidz

Buku FSQ ketemu!

Buku Financial Spiritual Quoetient yang saya pinjam di perpus MUI akhirnya ditemukan mas Office Boy Gedung H lantai 2.  Sebelumnya saya sangat  panik, terancam denda 80 ribu karena berhasil menghilangkannya. Asumsi saya tertinggal di mushala. Setelah 2 minggu waktu berlalu, saya menulis pengumuman karena kemungkinan tertinggal di kelas, eh ternyata iya.

Bingkisan dari KISPI

Selain FSI, saya ikut Kelompok Studi (Studi Group) Al Hikmah Research Centre disingkat ARC . Kamis, 3 Desember 2009 saya menghadiri acara Kajian Ilmiah Sosial Politik Islam. Hari itu rangkaian acara terakhir, kajian tentang Negara dan Islam. Terkejut,karena pada akhir acara   saya dipanggil ke depan untuk menerima apresiasi Peserta Terbaik Studi Group yang berjalan hampir satu semester ini. Aduh, ada-ada saja anak-anak ARC.

Em.. materi yang sudah kami diskusikan selama ini antara lain tentang si Amina Wadud seorang feminis, Masalah Refugee, Esklusi Sosial dan Sistem Negara Demokrasi, Epistimologi Islam, Review Film The Secret, Energy Security, Career Path, Solusi Kemiskinan Indonesia, Media dan Representasi, apa lagi ya? Saya lupa, he!

Ya, untuk ARC, terimakasih ya bapak-bapak, ibu-ibu….

Materi Mentoring

Jumat, 4 Desember 2009. Ngisi mentoring. Sudah beberapa bulan saya bersama menti hasil dari dauroh FISIP 2009. Ada beberapa silabus yang tidak saya penuhi, (atau memang belum ada?). Karena pertimbangan alasan rasional tertentu, saya ubah banyak. Materi ini saya pikir bisa jadi alur yang lurus, buat bekal mereka menghadapi teori naas di FISIP. Pertama, materi Iman, sepertinya sederhana, tapi diharapkan mereka bisa menjawab pertanyaan tentang :

  1. Apa alasan beriman kepada Islam, apa beda fundamental dengan ajaran lainnya, jangan-jangan iman hanya karena orang tua anda Muslim?
  2. Tunjukkan bahwa percaya pada 6 hal yang abstrak (Rukun Iman) dapat membangun peradaban manusia
  3. Bagaimana posisi islam diantara Ideologi lainnya

Jjja.. cukup tiga dulu, bahkan bisa sampai satu jam lebih menguraikannya. Menti sudah cukup mabok, tapi pengin nambah.

Materi kedua masih seputar Aqaid Islamiyyah, Ghawzul-Fikr. Kita bisa mulai dengan materi sejarah

  1. Sejarah kekecewaan Barat terhadap agamawan, dan kebangkitan Renaisance
  2. Implikasinya, penyebaran ide atheism, atau sekuler
  3. Sejarah keterpurukan Islam di Turki

Pyuh.. mentoring makin hot, kita bisa kasih mereka es…

Materi hari berikutnya tentang :

  1. Bukti kebenaran Islam dan adanya Tuhan, sehingga bisa menjelaskan secara logis bahwa atheis benar-benar sheshat
  2. Alasan mengapa agama dan kehidupan tidak bisa dipisahkan
  3. Dan…Misi Manusia di bumi

Biasanya tidak cukup satu –dua kali pertemuan, dan perlu keripik kayaknya, he! Lalu materi selanjutnya…

  1. Identifikasi kesesatan berpikir, bermanfaat buat alarm kalau menemukan teori sosial berbahaya, contohnya relativisme, positivisme, tolok ukur dengan rasionalisme, asumsi sebagai akidah masa depan

Materi ini cukup menghabiskan dua kali pertemuan  dan boleh makan malkist buat mendengarkannya. Next, teman-teman bisa menggunakan silabus sesuai dengan keadaan fikriyah menti. Jangan lupa sms tausiyahnya ya babe,

Silaturahim Akbar FSI

Sabtu, Ahad 5 Desember 2009

Akhirnya,masih bisa makan enak, di silaturahim akbar alumni FSI di FISIP. Selain itu, saya bisa melihat langsung tari saman dari FKM, dan Snada menyanyi.“Wow. Udah bapak-bapak! Tapi enak sekali suaranya.“

Disini berkumpul para aktivis, atas izin Allah mereka banyak yang sukses. Hadir Ustadz Bendri, alumni Komunikasi  yang menjadi pembicara talkshow, dan seperti biasa,banyak yang tertawa karena suka memakai istilah aneh-aneh.

Bahagia sekali hari itu. Hm, Tampaknya panitia sangat kelelahan, tapi alhamdulillah berjalan lancar.

Membicarakan transportasi, tentu sama “elite”nya ketika berbicara masalah teknologi informasi, komunikasi,energy security, dan lain sebagainya. Transportasi bicara hajat hidup orang banyak. Transportasi memiliki permasalahan, tantangan, dan masa depan.Hal ini masuk dalam agenda penting, dikuatkan dengan pendapat bahwa kondisi transportasi mencerminkan sikap dan budaya suatu bangsa.Sayang sekali,  ternyata agenda penting tersebut tidak didukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni. Salah satunya “menimpa” kereta api di Indonesia. Data dari situs Kereta Api Indonesia, ternyata pegawai lulusan Sekolah Dasar nyaris mendominasi, sebanyak 9143 dari 26.316 pegawai.

Jika kita mau menyadari, ternyata ladang bergengsi di bidang kereta api sangat banyak. Kereta api membutuhkan  tenaga terlatih,tidak main-main. Tidak jauh beda dengan pegawai telekomunikasi yang mengutamakan kecepatan dan pelayanan.Aspek yang menjadi tanggung jawab layanan kereta api  juga sangat besar. Sebagai contoh,keterlambatan jadwal kereta bisa saja mengakibatkan situasi fatal yang tidak dapat ditoleransi bagi ribuan karyawan yang berangkat kerja menggunakan jasa kereta.

Selain kebutuhan tenaga terlatih serta pelayanan dengan tanggung jawab besar, disana pula akan bergabung banyak investor.Wilayah stasiun yang strategis memungkinkan adanya pertokoan yang menjual makanan, minuman, maupun cenderamata.Kemudian,  fasilitas penunjang bagi para penumpang, seperti media telekomunikasi,sarana ibadah,  kamar kecil nyaman dan bersih, yang memungkinkan investor melirik dan menanamkan modalnya. Tidak ketinggalan, kereta api membutuhkan tenaga untuk pemberdayaan masyarakat (community development) guna memecahkan  permasalahan seperti pengamen, pedagang asongan, dan pengemis di stasiun dan di dalam kereta.

Selain mencermati kebutuhan, kita juga menemui permasalahan. Melalui pengamatan,  setidaknya ada beberapa permasalahankereta api. Pertama, armada kereta ekonomi yang tidak mencukupi jumlah penumpang. Padahal, butuh perhatian 59% terhadap kereta ekonomi, dibanding kelas eksekutif dan bisnis. Kedua, persoalan mengenai keamanan.Pengelola tentunya tidak mau dirugikan oleh penumpang gelap tiap harinya. Begitupula, tidak membiarkan grafik kriminalitas terus naik. Ketiga, kurangnya kedisiplinan pengelola. Semua permasalahan tersebut membutuhkan manajemen terarah.

Singkatnya, kebutuhan kereta api dan permasalahannya dapat segera teratasi dengan adanya tenaga yang berkompeten.Tapi, faktanya, sumber daya manusia yang ada tidak mampu mendukung cita-cita tersebut. Perlu ada perombakan profil Kereta Api Indonesia, bahwa profesi di bidang ini bergengsi,  tak jauh berbeda dengan profesi di bidang teknologi informasi misalnya, yang cenderung dianggap bergengsi.

Kini, pemerintah dan pengelola kereta api perlu memikirkan rekruitmen yang membutuhkan tenaga profesional lebih banyak. Butuh banyak lulusan sarjana, maupun sekolah kejuruan khusus belajar mengenai teknologi kereta api  untuk menangani bagian strategis. Tentu sangat ganjil, jika proyek besar kereta api ternyata masih memberikan lowongan yang besar untuk lulusan pendidikan tingkat Sekolah Dasar.

Kita bisa mengambil inspirasi dari Jepang. Pada tahun 1877, negara ini  telah merintis The Engineer Training School bekerjasama dengan Stasiun Osaka. Keahlian praktek yang difokuskan adalah sistem, konstruksi, dan operasi kereta api. Lulusan sekolah ini akan dikirim untuk mempelajari teknologi canggih di Inggris sebagai persiapan untuk menjadi pimpinan program konstruksi kereta api. Selain itu, terdapat pula Railway Technical Research Institute in Kokubunji, Tokyo.Artinya, kereta api mendapat perhatian istimewa, dan kita telah mendengar banyak berita tentang keberhasilan Jepang dalam transportasi, khususnya kereta api.

Jalur kereta api selama ini merupakan jalur transportasi dengan jumlah penumpang terbesar nomor dua  (7,32 persen) jalan raya yang digunakan sebanyak 84,13 persen. Undang-Undang  Perkeretaapian No. 23 pasal 118 tahun 2007menyatakan bahwa dalam upaya pengembangan perkeretaapian perlu dilakukan kerja sama oleh pemerintah, pemerintah daerah, badan usaha, lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Semoga peraturan tersebut tetap menjadi perhatian bersama, untuk mewujudkan transportasi Indonesia lebih baik. Dahulu, kita bangkit untuk melawan penjajah kolonial, dan sekarang adalah masa untuk melawan segala ketertinggalan kita.

Manusia memiliki akal untuk dapat memprediksi masa depan dengan mempelajari gejala yang terjadi saat ini. Ketika menemukan ancaman, maka sikap bijak yang diambil adalah melakukan strategi agar terhindar dari bahaya ancaman tersebut. Bencana banjir ibarat “bintang tamu” yang selalu dibayarkan APBD karena rutin hadir dalam acara tahunan Jakarta. Padahal banjir lebih dari ancaman, besar kemungkinan ia datang dengan bahaya yang lebih mengerikan. Dan disinilah kita akan  bicara mengenai kekuatan alam.

Pada tahun 2007 terdapat 99 lokasi genangan banjir. Berikutnya, Jakarta diterjang banjir akibat air laut teluk Jakarta yang menyebabkan terputusnya jalur tol menuju bandara. Pada tahun ini, jumlahnya bertambah menjadi 169 genangan karena drainase buruk.

Kita bisa membayangkan, dalam waktu yang bersamaan hujan datang di saat 144 situ dalam kondisi rusak dan 49 sedang mengalami perbaikan. Tidak dapat dicegah lagi, banjir akan hadir untuk ke 351 kalinya terhitung sejak jaman kolonial.

Masih lekat di ingatan, tragedi Situ Gintung yang muncul tiba-tiba seperti tsunami yang menghantam dari darat. Tak terduga jumlah kerugian material yang diderita. Musibah semacam ini ibarat bom yang akan meledak sewaktu-waktu, jika kerusakan alam dibiarkan tanpa perbaikan. Bencana yang sangat mungkin menenggelamkan ribuan rumah, ternak, properti, lahan pertanian, melumpuhkan industri, listrik, komunikasi. Ironisnya, jumlah kerugian ditambah anggaran bantuan  bencana  bisa digunakan untuk pembuatan kanal baru.

Agaknya, memang alam sedang bermasalah dengan manusia. Ada alam, dan manusia. Alam berkehendak sebagaimana cara manusia memperlakukannya. Keunikannya, ia memiliki konsistensi. Perlakuan baik terhadapnya, maka  alam akan membantu manusia. Berbeda dengan manusia, diperlakukan baik belum tentu balas jasanya sepadan.

Manusia hasil didikan sistem buruk ibarat anak kecil yang menganggap mainan mobil yang di tangannya itu dapat dipermainkan sekehendak hati menurut persepsi dirinya.  Ketika baterai mobil mainannya mati, ia tetap memaksa agar tetap jalan, entah didorong atau diseret. Tapi, tingkah lakunya itu menimbulkan kerusakan pada mobil mainan, karena putusnya kabel yang menjadi penghubung roda ke pusat penggeraknya. Akhirnya, mobil rusak dan tidak lagi dapat berjalan dengan tenaga baterainya.

Tampaknya, keadaan situ  dan 13 aliran sungai di Jakarta sebagaimana ilustrasi diatas. Kita bisa bertanya, berapa tahun lagi jatah usia Jakarta. Melihat baterai yang dimiliki nyaris kehilangan fungsinya. Jika alam sudah Dispereert, atau putus asa dalam bahasa Belanda, maka ia tidak bisa menunda kemarahannya.

Kita sudah mempercayakan kepada pemerintah untuk mengatasi masalah ini. Yakni Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Departemen Kehutanan, Departemen Dalam Negeri, Bappenas, dan BPN. Kemudian pemerintah provinsi dan kota.  Tampaknya, belum ada fokus yang seragam, padahal kekuatan yang dihimpun dinilai sudah mampu memecahkan masalah banjir.

Mungkin kita bisa ambil contoh, Kuala Lumpur, ibukota Malaysia yang terpukul dengan bencana banjir terburuk pada tahun 2003. Sejak saat itu, pemerintah Malaysia memberi perhatian khusus terhadap masalah ini. Departemen of Irigasi and Drainage (DID) Malaysia memutar otak dengan menggali teknologi termutakhir penerapan penanggulangan banjir. Akhirnya dibangunlah terowongan dengan sistem Smart (Storm Management and Road Tunnel). Semua bekerja. Kuala Lumpur bebas banjir. Proyek tersebut pun dianggap paling spektakuler se Asia. Hal tersebut adalah hasil dari kerja fokus dan sinergis.

Ketika ada keluhan  menangani pemukiman kumuh di sekitar bantaran sungai, maka kita bisa ambil contoh kebijakan yang diambil walikota Solo. Pemukiman di sepanjang kali dimundurkan, dan di pinggir sungai dibuat jalan inspeksi. Perumahan itu kemudian dilegalkan melalui pemberian surat-surat resmi. Masyarakat diberikan subsidi untuk memperbaiki rumah dan fasilitas sanitasi mereka. Upaya tersebut melalui pendekatan personal dan dialog dari pemerintah kota dengan masyarakat. Solo sukses dalam menangani pemukiman kumuh dan mendapat apresiasi pada peringatan Hari Habitat Dunia 2009.

Apabila dana yang menjadi masalah pula, diketahui Bank Dunia hendak memberikan bantuan 1,3 trilyun rupiah untuk pengerukan sungai. Tampaknya, kini sudah jelas bahwa ibukota sangat mampu mengatasi permasalahan banjir.

Singkat cerita, Jakarta masih terancam banjir. Melihat kondisi yang ada sekarang bukan tidak mungkin akan terjadi bencana lebih buruk. Hal tersebut mendatangkan kerugian fisik dan non-fisik yang sangat besar. Kita pun tidak ingin mendapat banjir bandang seperti Kuala Lumpur yang pernah melumpuhkan hampir seluruh aktivitas kota. Kita cukup mengambil teladan akan penyelesaian masalah secara fokus. Berapa jatah usia Jakarta ke depan, kita bisa memprediksi. Seandainya langkah yang diambil sama, yakni mendorong, menyeret, “mobil mainan” berupa alam dengan  memperlakukan tidak sebagaimana mestinya, maka bisa ditebak yang terjadi selanjutnya. Maka, tidak bisa tidak, mari kita adakan perbaikan sebelum terlambat.

koranMemperingati Hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober yang lalu memberikan koreksi kembali bagi permasalahan pemuda saat ini. Higgins Ronald menyebutkan masalah yang dihadapi manusia saat ini dalam buku “The Seventh Enemy.” Salah satunya adalah kadar kesadaran yang rendah, khususnya dalam memecahkan tantangan permasalahan secara sungguh-sungguh. Artinya, dorongan semangat urgensi yang mendesak kian terkikis. Tak dipungkiri, masalah ini pun menyerang generasi muda kita. Semangat, jiwa, pemikiran mereka tengah dijajah.

Faktor yang sangat mungkin menjadi penyebab adalah media massa liberal, yang memberikan tayangan low brow atau selera rendah. Kita bisa amati dalam kehidupan remaja sehari-hari. Ada yang lebih ingat alur cerita sinetron daripada materi sejarah yang diberikan kemarin, mahir menebak judul lagu dan menghapalkannya dengan mudah, bahkan paham benar mengenai kehidupan dan gossip para artis. Selain itu, obrolan akademis saat jam istirahat di sekolah dianggap aneh. Media massa , seperti televisi, tak sedikit yang menyebar penyakit, tak lain adalah pandangan harga diri (self esteem) materialistis dalam sinetron, “ajaran” instan dan pragmatis dalam tayangan kuis dan ajang pencarian bakat. Padahal, perbincangan entertainment seperti reality show maupun gossip dianggap selera rendah bagi bangsa yang maju. Sadar atau tidak, ini adalah penyakit yang harus disembuhkan.

Mc Clelland menyebutkan bahwa media massa modern idealnya berfungsi sebagai motivasi berprestasi atau needs for achievement. Schramm berpandangan bahwa media dapat menebar gagasan,inspirasi, dan  memberikan horizon  mengenai banyaknya pilihan hidup. Media massa menjadi penting karena pemuda dapat mengetahui dunia luar, baik tanah air, bangsa, maupun bahasa kebanggaan mereka. Tanah air mencakup pengetahuan mengenai darat dan perairan warga negara,.Bangsa meliputi wawasan tentang kesamaan ideologi, cita-cita, budaya atau sejarah masyarakat. Sementara, bahasa perlu dipelajari sebagai salah satu identitas kebanggaan negeri. Tapi,bagaimana bisa ikrar Sumpah Pemuda dapat terwujud jika ternyata lingkungan dan media massa menghindarkan pemudanya dari cita-cita tersebut?

Tidak bisa tidak, media edukasi harus menjadi solusi. Kita harus bersinergi dengan perbaikan sistem pendidikan di sekolah, juga dukungan media massa . Pelajar akhirnya benar-benar menjadi pembelajar, yang paham akan realitas sesungguhnya, bukan realitas tontonan. Pelajar hendaknya sadar bahwa bangsa ini tengah “ditampar” oleh kemajuan bangsa lain, dan menuntut reaksi dan prestasi. Bahkan, media massa adalah sarana paling efektif untuk mendapatkan alternatif  pendidikan,  bilamana materi pengajaran  di sekolah belum bisa memberikannya. Contohnya materi tentang wirausaha, penemuan modern baik dari bidang eksakta maupun sosial, bahkan materi rohani semacam training motivasi yang mencerahkan. Harapannya adalah media massa tidak lagi menebar frustasi seperti yang dikhawatirkan oleh kalangan melek media.

Pemuda, salah satu aset terbesar bangsa ini.  Bila kita menerapkan analogi IPO, yakni input, proses, dan output, maka jangan menuntut standar tinggi terhadap output bila kita sadar bahwa proses yang ada belum beres. Menjadi hal yang aneh manakala kita mengharapkan pemuda  cinta tanah air, bangsa, dan bahasa negerinya, tapi selama proses yang berlangsung ternyata tidak menghendaki demikian. Pendidikan melalui media massa merupakan bagian dari proses. Untuk bangkit, maka kita tidak boleh mengesampingkan media edukasi. Tuntutan ini selayaknya menjadi perhatian bagi kita semua.

Penjajahan pemikiran harus segera diatasi. Hal ini sama saja dengan penyakit yang sedang diderita sebagian besar masyarakat, khususnya kemacetan ide dan gagasan. Obatnya tak lain adalah pendidikan. Sarananya sangat tepat menggunakan media massa , seperti yang dikemukakan Alvin Toffler tentang media sebagai alat tercepat menyebar informasi dan gagasan. Penawar atau obat tersebut dapat diperoleh oleh dokter, yang tak lain adalah pemimpin dan para ahli. Kita tentu tidak ingin dokter-dokter penyembuh  tersebut diam saja, membiarkan wabah penyakit tersebut merajalela. Kesimpulannya, maka tak ada kompromi lagi untuk pembenahan  media edukasi.

***

Ini Langkahku

Awali Hari

Awali Hari

Jam digital sengaja dipercepat sepuluh menit. Pagi hari aku biasa bergegas menutup pintu kamar kostan, mengucap salam untuk berangkat kuliah. Ibu kostku yang ramah selalu menjawab “hati-hati..: atau berpesan jangan kemalaman. Suaminya juga berpesan agar hati-hati menyeberang. Aku berusaha mengawali hari dengan menyapa mereka sebelum berangkat.

Langkahku pun berlanjut, kadang melirik kaca jendela rumah, apakah jilbab dan pakaian sudah rapi. Sambil tersenyum sedikit di kaca jendela rumah lain. Aku biasa mengenakan gamis, kerudung ukuran panjang, tas punggung warna hijau tua, dan sepatu kain yang ringan.

Pasti banyak orang yang kutemui di sepanjang jalan. Ada ibu yang tak kukenal, kami saling senyum. Kemudian dia menyapaku duluan, “Berangkat neng?”. Kemudian aku bisa memberi salam penjaga toko Pak Haji yang duduk-duduk di depan. Di tempat itu aku membeli nasi bungkus, lebih murah,  dan kalau boleh menilai, memang lebih enak. Toko itu selalu kudatangi untuk membeli snack murah seharga Rp.500 untuk sekedar membuat mulutku berisik.

Aku mengambil langkah lagi, lima meter melangkah, aku lewat gerobak mie dan nasi goreng. Buka tiap malam,. Aku mengenal penjualnya, Mba Atun yang sering membuatkanku mie rebus porsi yang banyak untuk seharga enam ribu rupiah. Aku sempat cerita banyak dengannya, terutama soal makanan berikut harganya, pernah pula ia tanpa sungkan bercerita tentang keluarganya.

Tiga menit sudah, aku lewati pula warteg dengan etalase yang memajang lauk pauk, masih ada pula sayur yang melampaui wadahnya. Tahu, tempe, ayam, perkedel, ditata rapi di piring-piring kaca. Aku melihat beberapa pemuda, tampaknya mereka mahasiswa sedang sarapan pagi, dan tengah asyik bercakap. Kuperhatikan  area ini memang banyak mahasiswa putera, tapi syukurlah bukan orang -orang usil yang berkelompok sambil main gitar.

Aku kembali meneruskan perjalanan. Jalan agak menanjak, kadang kesusahan karena tasku penuh dan membuat langkahku  sedikit berat. Aku mengambil langkah panjang, lalu masuk berbelok gang sempit, Biasanya aku bertemu nenek, dan kami saling menyapa. Pagi-pagi ia sudah duduk-duduk di teras rumah. Benar saja, si nenek yang biasa memakai daster itu sudah asyik bercakap dengan tetangga. Aku tersenyum kearahnya, dan ia menganggukkan kepala. Cuma lima langkah, aku lewat mushola bercat hijau d gang sempit ini. Aku sering mendapati kondisi tempat ibadah ini sepi. Terakhir ramai saat Ramadhan lalu, banyak yang datang kajian dan shalawatan. Lanjut Baca »

Satu Jam untuk Hafidz

cinta-love-salju-biruSelama satu jam aku menunggu di peron stasiun. Kadang mencoba berdiri, berkeliling mencoba mengusir rasa gelisahku. Sesekali kulirik petugas berseragam biru disana, tampaknya ia paham bahwa aku menunggu seseorang dengan resah.
Aku duduk ,menyilangkan kaki, merogoh ponsel yang ada dalam tas tangan. Kulihat jam berapa sekarang, hampir senja aku menantinya. Pikiranku kembali tak menentu, dan aku kembali menekan tombol, meneleponnya. Kudekatkan ponsel ke telinga, tapi hal yang sama terulang : tidak ada koneksi. Sekarang aku menyerah.

Kali ini aku mencoba menghibur hati. Kuambil sebuah mushaf kecil dalam kantong tas, ini adalah hadiah pertama darinya. Aku sangat ingat, benda itu bukan dibeli baru di toko buku, melainkan pemberian seorang ustadz untuknya, dan kini ia merelakannya untukku. Saat itu, tanpa basa-basi aku langsung terisak. Aku tersenyum sembari merasakan hangatnya air mata di pipi yang terus mengalir. Tapi ia tidak pernah tahu dalamnya perasaan ini. Ia hanya menggenggam tanganku, menepuk bahuku saja.

Mushaf itu aku baca. QS Ibrahim ayat 7, ayat yang selalu mengingatkan aku pada kesabarannya. Aku membaca ayat seterusnya, melantunkan satu persatu ayat yang menenggelamkan rasa gelisahku. Namun aku tidak bisa menyembunyikan rasa takut. Dan kerudung putih lalu basah oleh setetes air mata yang menitik. “Aku tidak boleh cengeng di hadapannya.” batinku. Diriku, selalu menebar ketenangan, kegembiraan, bukan keadaan cengeng yang mengharu biru. Segera aku menanggalkan kacamata, mengusap air mata. Lanjut Baca »

Manusia dan Dialog

img1Dia memandang kami sejenak, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Membuka spidol tinta biru yang ia pegang, dan menuliskan sebuah kata di depan dengan huruf kapital : DIALOGUE. Sejenak kami belum paham maksudnya. Tapi dia menunjukkan clue, akhirnya kami tersadar dan mengeja kata yang ditulis olehnya : dia… lo.. gue..

Dia duduk kembali, “Anda melibatkan banyak orang dalam menulis..”

Sampai detik ini, aku mengingat dan mencoba menangkap lebih jauh makna ini. Apa yang dia katakan tentang dialogue.


“Dialog secara etimologi terdiri dari dua kata yang berasl dari bahasa yunani διά (dia)yang artinya jalan batu cara dan λόγος (logos) yang berarti kata sehingga dialog dapat diartikan sebagai bagimana cara manusia dalam mengunakan sebuah kata. Hans-Georg Gadamer melukiskan dialog sebagai proses dua pihak yang saling memahami satu dengan yang lain dimana setiap orang membuka dirinya untuk menerima cara pandang orang lain sebagai hal yang layak dipertimbangkan.”

Seminggu berikutnya, aku sengaja mengacak pikiran untuk bermain kata dialog yang kudapat. Kini aku mengerti, namun sejauh mana melakukannya, aku belum bisa menjawab. Mampu berbicara dan menulis, dengan melibatkan dialog di dalamnya.

Jika ingin sedikit usil, sadar atau tidak, bahwa ada keterlibatan tiga pihak, dia, lo, gue. Ada tujuan untuk siapa kita berkomunikasi, baik berbicara lisan maupun tertulis. Urutan pertama, posisi paling prima, adalah untuk Dia.

Dia, Tuhan, menjadikan lecutan awal bahwa sudah ada batas aturan untuk berkomunikasi. Menempatkan Dia pada awal tujuan menjadikan setiap uraian kata yang terucap maupun tersurat ditujukan sebagai bentuk rasa cinta kepadayYa. Karena Dia, kita bicara kebenaran, untuk Dia kita mencoba menghibur sahabat, dan Dia membuat dorongan bernasihat. Arti menghadirkanNya adalah kepasrahan bahwa kita sebenarnya tidak pernah sendiri, berdua, melainkan selalu ada Dia sebagai pihak ketiganya.

Ada di urutan kedua, suku kata Lo, artinya kamu, anda, engkau. Meluruhkan rasa egois, arogan, menghadirkan “engkau “ lebih dulu sebelum berdialog,:

sahabatku, aku harus berkata tentang apa yang harus engkau tahu, aku butuh bicara denganmu apa yang kau butuhkan untuk tahu, dan aku sangat ingin berbincang denganmu tentang apa yang engkau inginkan untuk tahu..”

Terakhir,. Gue, yang diminta berada pada akhir posisi dialogue.

Communicate warmth and emphaty other.”

Mungkin menjadi hal yang berat, tapi belum pula dijumpai teori yang menganjurkan untuk menggurui dalam berbicara dan menulis, teori yang memberikan saran untuk menyombongkan diri dalam berdialog agar sukses. Ternyata belum ada. Ya, dialog menghadirkan tiga pihak. Tuhan, kamu, dan diriku.

Kemenangan berdialog bukanlah kemenangan yang berpihak pada satu pribadi, tapi memenangkan tiga unsur tadi. Dialog berarti memberikan pemikiran dan pencerahan baru, bersifat konstruk dalam memandang horizon masalah.Berdebat bukanlah dialog. Debat meminjam konsep aku-kamu, mengedepankan teori dasar yang sudah berbeda, dan tidak pernah bertemu. Debat lebih banyak meminta energi yang jarang berujung pada solusi. Sementara dialog adalah konsep “membagi” energi untuk mengantarlan keinginan agar masalah teratasi.

Aku menarik nafas. Benarkah selama ini yang dilakukan? Seberapa sering aku berdebat, dan melupakan dialog? Mengedepankan ego dalam berbicara? Melupakan bahwa “kamu”adalah pendengarku, dan lupa tujuan bahwa hal ini juga sebenarnya menghadirkan Tuhan?..

Hm… semoga jadi renungan pengingat diri..

Buat Ed Zoelverdi lagi untuk “dialog”nya

gogframesThe Times Higher Education – QS World University Rankings, lembaga independen internasional yang dibentuk oleh koran The Times, Inggris menempatkan Universitas Indonesia pada posisi ke-201 tingkat dunia. Berita gembira ini dipublikasikan oleh The QS pada 9 Oktober yang lalu. Mendengar peringkat kelas dunia, terbayang bahwa kampus ini  mampu menerima tantangan parameter yang ditetapkan oleh pendidikan modern.

Menurut kaum modernis, pendidikan modern tidak lepas dengan pendidikan yang disuguhkan oleh bangsa Barat . Mereka percaya, bahwa kemajuan pendidikan negara berkembang harus mengikuti sistem dan nilai yang ada pada pendidikan Barat jika mau mengejar ketertinggalan mereka. Semua ditiru, dan dicontoh, berharap output yang dikeluarkan seperti pendidikan modern Barat.

Kini tampaknya teknologi informasi yang menunjang pendidikan dapat dijangkau dengan mudah. Negara berkembang tidak perlu susah payah menciptakan komputer, karena sudah bisa membeli produknya dari negara maju. Begitu pula alat laboratorium penunjang pendidikan. Negara berkembang seperti Indonesia bisa meminta kerjasama asing seperti Australia. Belanda, Inggris,.untuk mendapatkan fasilitas tersebut dengan murah.

Menjadi hal yang sewajarnya, Indonesia memperbaiki posisinya di tingkat dunia dalam bidang pendidikan karena ditunjang bantuan tersebut. Indonesia tidak boleh tidak maju setelah mendapatkan bantuan dari banyak pihak. Indonesia telah banyak mengadopsi sistem negara maju, mendapat dukungan materi, atau hal operasional lainnya. Semua dapat teraih dengan mudah.Meskipun begitu, tapi satu yang tidak boleh ditinggalkan adalah mengenai masalah moral.

Perkembangan teknologi pendidikan ini bukan tanpa masalah. Berbicara tentang pendidikan modern kelas dunia, terbayang pula kelas sarat teknologi canggih, mahasiswa diberikan kemudahan dengan akses internet dimana-mana, tampak akademisi “berteman” dengan laptop, dan menikmati keluarbiasaan dunia digital. Semua perangkat yang diberikan universitas memang serba modern. Tapi jangan lupa, bahwa kehidupan serba modern ternyata tidak berlaku pada sebagian besar masyarakat. Jangan sampai kenyamanan fasilitas membuat akademisi melupakan permasalahan sosial di sekitarnya, justru merasa intim pada persahabatan dunia maya, dan jarang tersadarkan oleh realitas sosial di luar. Karena  sejak dari dulu kampus ini identik dengan kampus rakyat, maka sebisa mungkin UI masih menyandang predikat demikian, yang masih terjun memikirkan realitas sosial masyarakat Indonesia. Pada akhirnya, moral memang menjadi kriteria penting yang tidak boleh dilupakan

Moral juga dibutuhkan bagi kegairahan membentuk tim riset. Science Park, tulisan yang tercetak gagah di muka danau kampus ini setidaknya menunjukkan komitmen untuk menggalakkan budaya riset. Di era modern ini, banyak sekali upaya menyingkap ilmu alam dan sosial, dan tidak sedikit terjerumus dalam kekeliruan. Hal ini diakibat permasalahan moral. Banyak ide-ide dunia yang menjerumuskan, gagasan yang merusak, karena diakibatkan ketidaksertaan moral dalam berpikir. Misalnya karena urusan materialistis, muncul ilmuwan  yang sengaja menciptakan virus baru agar produk obat mereka laris. Belum lagi urusan riset yang menyalahi fitrah manusia, sehingga muncul kesombongan dan menentang kekuasaan Tuhan.

Pendidikan modern yang ingin diterapkan di UI dengan kelengkapan teknologi canggih dan risetnya jangan sampai meniadakan moral. Peringkat UI di kelas dunia hendaknya menjadi pemacu untuk mengutamakan proses pendidikan menuju manusia utuh (the whole person), dan mewujudkan human investment, bukan proses meraih cita-cita untuk mendapatkan kekayaan semata. Proses ini harus melibatkan moral, sehingga jangan sampai muncul lulusan  dengan bekal “semangat” pragmatis dan menjadikan cendekia tapi haus materi. Akhirnya jatuh saat godaan dunia begitu hebat di dunia kerja, mengambil jalan pragmatis dan berita-berita korupsi beredar lagi. Inilah yang perlu dicermati pemegang kebijakan universitas, yakni mengutamakan proses bagaimana  menempuh pendidikan di universitas harus menjadi suatu kenikmatan, bukan semata menaati sistem secara teknis untuk mendapat ijazah dan pekerjaan.

Nuansa kenikmatan sebagai akademisi yang intelektual-bermoral menjadi agenda penting meski tidak menjadi tolok ukur penilaian pendidikan kelas dunia. Teringat tulisan Dr. Zamroni tentang pendidikan dan budaya, mungkin nuansa ketekunan di Jepang, harus dicontoh Universitas Indonesia. Moral Ninomiya Kinjiro merupakan nilai yang dimanfaatkan dalam praktek pendidikan untuk mengembangkan etos kerja. Dalam kisah ini, Kinjiro adalah anak dari keluarga miskin yang tekun belajar. Karena sangat miskin, ia sampai memasukkan kunang-kunang dalam botol sebagai penerangan saat belajar. Semangat dan kesederhanaan Kinjiro lalu diwujudkan dalam patung anak yang sedang asyik membaca sambil berjalan dan menggendong kayu bakar. Patung tersebut didirikan di setiap sekolah di Jepang. Hal tersebut hanya satu contoh, bisa jadi UI mampu mengedepankan kesederhanaan, serta melibatkan agama secara nyata dalam orientasi pembelajarannya. Pembangunan nonfisik inilah yang diharapkan menyertai usaha Universitas Indonesia  untuk menuju peringkat kelas dunia.

***
Buat Ed Zoelverdi lagi…

Ernst Cassier menyebutkan salah satu keistimewaan manusia, yakni animal simbolicum,. Simbol memang begitu erat dengan kebudayaan manusia, mungkin kita hidup digerakkan oleh simbol-simbol, sampai manusia pun disebut makhluk yang identik dengan simbol. Uniknya, tidak ada referen atau hubungan yang jelas dengan objek yang ditujunya. Misalnya, tidak ada hubungan antara peletakan  batu pertama dengan dimulainya sebuah gedung dibangun. Tidak ada kaitan jelas antara gunting pita dengan peresmian sebuah real estate. Seperti halnya hubungan antara sebuah cincin dengan tanda perpisahan, penghargaan, dan akhir masa jabatan. Kemudian ada pin emas  yang dilekatkan untuk anggota dewan 2009-2014. Semua nyaris tidak ada hubungannya, tapi ada makna dibalik simbol tersebut. Pemaknaan itu berasal dari kesepakatan bersama.

Kita masih ingat, pemberitaan di media mengenai anggaran untuk penghargaan bagi anggota DPR lama, dana dikeluarkan sebesar Rp 1,9 miliar. Sedangkan pin bagi anggota dewan baru lebih besar lagi, yakni  Rp 3 miliar. Jadi total untuk perkara ini negara harus mengeluarkan dana hampir Rp 5 miliar. Begitu luar biasanya sebuah simbol, sehingga negara berani mengeluarkan biaya setara untuk bantuan korban bencana alam. Ada apa dengan simbol, sehingga mampu menjadi saingan bagi kepentingan subtansial.?

Barthess  menyebutkan bahwa simbol tidak berdosa, netral, namun memainkan peran sebagai penanda untuk memberikan pesan. Cincin tidak berdosa, tapi apakah maknanya benar-benar sebagai wujud penghargaan sebuah pengabdian? Siapa yang mencetuskannya? Masalah inilah yang disebut Barthess sebagai mitos. Sesuatu yang sebenarnya konotatif, dimana semua orang bebas memaknainya, kemudian datanglah power yang menyatakan bahwa cincin memiliki makna sebagai  wujud penghargaan terhadap pengabdian adalah suatu kebenaran. Selanjutnya,  hal yang sifatnya konotatif akhirnya menjadi denotatif. Orang-orang sepakat, dan akhirnya tunduk, dan mengiyakan : ”cincin memang perlu dibuat. mari anggarkan dananya bersama.”

Cincin dan pin ini pun  masih dalam kondisi tidak berdosa, jika memang : negara ini sudah makmur, tidak krisis, tidak banyak hutang, sehingga tak mengapa simbol tersebut diberi anggaran besar. Namun kenyataannya, negara kita kondisinya tidak demikian. Kita sedang krisis. Kata yang maknanya sudah lawas dalam teori siklus bisnis, tapi baru populer saat jatuhnya rezim Soeharto. Artinya, lebih dari satu dekade keadaan ekonomi kita masih payah. Jangan-jangan wakil rakyat tidak tahu definisi krisis? Tidak bisa membaca data statistik berita kemiskinan, buta huruf, dan kelaparan? Jadi boleh dikata si cincin ini tampaknya sudah menjadi berdosa.

Situs Harian Global, menyebutkan kutipan pernyataan  anggota DPR tanggal 10 Juni 2009 tentang perencanaan pengadaan cendera mata, bahwa simbol ini merupakan peninggalan dari kebiasaan masa lalu. Kembali menurut Barthess, bahwa tradisi ni merupakan hasil social  convention tempo dulu. Pemaknaannya bisa saja dengan mudah diubah, dengan mengadakan kesepakatan lagi, bahwa tradisi ini bisa ditinggalkan mengingat dana yang dibutuhkan sangat besar. Tapi, mengapa perkara simbol yang memiliki sifat tidak nyambung ini masih tetap saja disepakati untuk  dipertahankan?

Berbicara kembali soal pemaknaan, mungkin disini akan sedikit ekstrim ketika Hitler, dalam bukunya Mein Kampft menyatakan pentingnya swastika baginya :

In red we see the social idea of the movement, in white the nationalistic idea, in the swastika the mission of the struggle for the victory of the Aryan man, and, by the same token, the victory of the idea of creative work, which as such always has been and always will be anti-Semitic.”(hal 496-497).

Hitler lalu membuktikan simbol dengan perjuangannya, dan kita bisa lihat sejarah bahwa Hitler tampak bergairah untuk membuktikan kebenaran swastika. Meski memang  berakhir tragis, namun Hitler memang tidak main-main dengan simbol  ini.

Kita beralih dengan emas ukiran simbol DPR . Beberapa diantaranya :

Makna Garuda yang digantungi perisai dengan paruh,sayap,ekor dan cakar mewujudkan lambang tenaga pembangunan. Di tengah-tengah perisai yang berbentuk jantung itu terdapat sebuah garis hitam tebal yang maksudnya melukiskan katulistiwa. Makna Pita dengan huruf-huruf DPR RI ditengahnya melambangkan suatu kesinambungan proses perkembangan Lembaga Perwakilan Rakyat yang tidak terlepas/terpisah dari sejarah perjuangan politik dan ketatanegaraan bangsa dan negara Republik Indonesia .

Kini kita bertanya, bagaimana anggota dewan memaknai cincin emas milyaran yang diukir berlambang DPR beserta pin emasnya? Mampukah ia memaknainya dengan tanggung jawab sebagai pengemban amanat rakyat? Apakah ia bersikeras memperjuangkan kebenaran simbol seperti Hitler? Jika tanpa simbol ternyata tidak menimbulkan efek semangat apa-apa, lalu buat apa berpusing-pusing memikirkan pembuatan simbol, beserta atribut filosofinya? Sehingga kita pun larut dengan mitos yang sebenarnya mudah sekali diubah.

Pemujaan terhadap simbol, upacara, ritus, seremonial, dengan anggaran yang menggila tentunya harus segera disingkirkan. Jangan sampai masalah ini timpang, mengesampingkan masalah subtansial. Dan yang penting diingat sekali lagi, sadarlah bahwa negara kita benar-benar : Krisis.

Buat Ed Zoelverdi, dan continual in the same subtance Plug& Play Bang Akew ttg makna simbol

***

Ceremonial Deso

Ceremonial Deso

Asri Nur Aini

Si Otong duduk setelah selesai di sunat dan terima saja di make up biar ganteng kayak pangeran jaman dulu. Tak lama teman-temannya serombongan datang mengucapkan selamat, memasukkan amplop dari uang patungan yang baru dikumpul di tempat parkiran tamu. Jantungnya deg-degan, cewek-cewek kelas bakal datang. Berkali-kali Otong  meyakinkan diri bahwa dia memang paling ganteng selama beberapa jam ke depan. Pikirannya campur aduk tak karuan lebih stress daripada pas disunat. Tapi akhirnya Ia kembali tenang setelah teman-temannya senang membantai sate ayam, sate kambing ,soto, kambing guling, rendang, rawon, gulai, siomay, bakso malang, pecel, semangka, melon, , anggur, es krim, pudding, soft drink, es campur, dawet,es bensin, petra max, bensol, avtur…..

Semua senang, semua kenyang! Tapi seorang teman Otong tampak kebingungan, dari tadi memegang piringnya saja,belum makan juga, tengok sana sini, lalu bertanya :

“ Tong? Kursinya mana yaaa? “

Otong kaget mendengar pertanyaan itu, malu ada penyajian kondangan yang tak memuaskan, dan bingung juga kenapa tidak ada kursi. Dia lalu jawab sekenanya : “Kayaknya makan tuh pake sendok ma garpu deh? Bukan pakai kursi..?!?

Teman Otong lalu mengangguk-angguk pura-pura mengerti.

Di kampung sebelah lain lagi. Akad nikah sudah selesai, ritual sungkem meninggalkan cucuran deras air mata.

“Semoga jadi keluarga bahagia ya nak…” begitu doa dari sana-sini. Pasangan pengantin   menjadi semakin yakin akan menjalani kehidupan barunya dengan baik sampai maut memisahkan. Lalu tak lama pembawa acara mengumumkan bahwa tiba saatnya acara ramah tamah. Semua tamu tersenyum lebar, apalagi ketika grup penyanyi dangdut sudah bersiap untuk tampil.

“Mari kita meriahkan… buat pasangan berbahagia ini…”

Kemudian biduan cihui itu ambil suara.

Selama beberapa jam lagu-lagu terus berdendang. Tamu senang. Sejauh ini liriknya masih nyambung sesuai soundtrack pesta perkawinan. Tapi, mendadak grup musik kehilangan stok lagu. Mendadak pula tema lagu banting stir! Dengan pedenya di acara pernikahan, mereka menyanyi kelakuan kucing garong, kamu ketahuan… pacaran lagi… malam ini malam terakhir bagi kita… bang thoyib.. kenapa tak pulang pulang… lelaki buaya darat, bang sms siapa ini bang? Jaka sembung!!Mau nyumpahin pengantennya?

Goyangan dangdut terus berlangsung dari siang, menjelang malam, sampai tengah malam. Tabrak terus, dan semakin ga jelas. Entah lagu tema senang, sedih, terus saja goyang-goyang. Lagu patah hati, dikhianati, perceraian, jogged-jogged  juga. Gak yang nyanyi, yang goyang, kagak mikir korelasi. Semua sudah kagak sadar, termasuk pengantinnya yang jadi tuan rumah. Semua mabuk, belum lagi kalau benar ada minuman keras yang diam-diam dibeli mumpung ada hiburan asik, lengkap sudah! Naudzubillah min dzaliik…

Acara berikutnya agak kelas menengah. Bisa perhatikan dan amati di kota-kota besar saat bulan Ramadhan. Seolah tidak makan berhari-harii, puasa 12 jam harus digantikan dengan minuman pembuka kelas super, makanan inti isi daging semua, ditutup segala macam dessert yang bikin perut justru tambah pusing. Bermuncullan even buka bersama pejabat ini itu, sahur bersama petinggi ini lah, tapi khusus kalangan sendiri. Dengan harga melangit dan style gaya barat.

Semua sudah anggap dengan sedikit kebarat-baratan jadi trend maka akan menaikkan gengsi. Standing party, macam-macam makanan dari sabang sampai merauke, miangas sampai rote. Banyak masyarakat kita menyelenggarakan acara seperti di atas, resepsi pernikahan dengan musik dangdut semalam suntuk, katanya biar semua terhibur dan senang, seolah sebagai ungkapan rasa syukur kebahagiaan pasangan pengantin. Wong Deso yang berharap ke Barat-baratan…

Budaya hambur-hambur ria di tengah kemiskinan yang mencekik sangat sering ditayangkan televisi. Anehnya, sebagian masyarakat masih belum sempat mengelus dada pada pesta hura-hura tersebut. Mereka telaten menyimak dimana pakaian dibeli, perancang, tamu artis yang datang, mas kawin, gaun siang, gaun malam.. Ini mungkin yang disebut rekreasi ruhani?.

Rasa syukur menjadi istilah yang relative. Sangat disayangkan, sebagian  masyarakat  tidak mau tahu bentuk rasa syukur seperti apa,  bagaimana jalan mengungkapkannya, sehingga semua menjadi doa agar kenikmatan yang diberikan Yang Maha Rahman tidak terputus. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang lalai, dan menjadi orang yang selalu mengingat karuniaNya

***

Uang vs Agama

Asri Nur Aini

Ada satu kalimat yang saya ingat dalam pertemuan rapat Amil ZIS Ramadan 1430 kemarin. Seseorang mengatakan kurang lebih begini : ‘Pokoknya pengelolaan infaq harus dikontrol. Ya itu, buat jaga-jaga. Soalnya uang memang gak kenal agama.”

Seketika itu, saya tertawa sambil mengangguk angguk. Mungkin kalimat tersebut terdengar biasa. Tapi kita bisa berpikir jauh tentang ini. Mana yang lebih baik, uang tidak mengenal agama, atau agama tidak mengenal uang?

Uang, atau istilahnya materi, disebut pula masalah duniawi. Kalau bicara agama sepertinya “tabu” menyinggung masalah uang. Tapi benarkah ajaran agama yang ideal adalah menyingkirkan sifat keduniawian?

Kita menjumpai beberapa ajaran, misalanya agama filsafat yang menghendaki bertapa untuk mencapai tingkat keimanan tertinggi. Agama ini tidak mengharuskan adanya kemajuan dunia. Boleh dikata, agama ini tidak mengenal uang. Tapi tentunya akidah ini justru merugikan diri penganutnya, bahkan menyalahi fitrah. Manusia pada fitrahnya ingin mencapai kecukupan, kemajuan, atau bersifat rasional. Maka akidah semacam ini membuat penganutnya memberontak., dan bisa jadi mengikis potensi kebajikan.

Berarti,.pernyataan diatas menyiratkan bahwa hal duniawi menjadi sesuatu yang penting. Memang benar. Tapi jika berlebihan, maka kasusnya jadi lain. Ada ideologi yang sudah terkenal, mungkin bisa jadi agama baru, yaitu Keuangan yang Maha Esa. Hasil pemikiran yang mengagungkan posisi pada materi, maka bisa kita lihat bagaimana akhirnya. Demi kesuksesan duniawi, maka mereka tak segan menjajah negara lain., memeras otak bagaimana cara meraih uang, jika perlu mengeksploitasi sumber daya yang ada. Timbullah kemerosotan moral, bencana, kemanusiaan, pertumpahan darag, sungguh keadaan yang menyedihkan. Jadi, akidah atau ideologi macam mana pula ini?

Tidak ada pilihan lain selain bertanya pada Islam. Seperti yang diutarakan di awal, bahwa uang tidak mengenal agama. Apakah Islam juga mengenal uang? Tentu saja jawabannya benar. Karena pilar kehidupan dalam Islam adalah mengenal dua keyakinan, keimanan diniyah dan duniawiyah. Inilah Islam, yang memberikan keseimbangan antara spiritual dan material. Islam mengatur moral, dan tidak menafikan material sehingga akidah ini terbangun dengan kokoh. Hal ini semakin jelas dalam QS Al Jumuah 62 :10

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”

Ada dua peran manusia dalam ayat tersebut. Bekerja untuk kehidupannya, seraya mengingat Allah. Bagaimana upaya dzikrullah atau mengingat Sang Pemberi Rezeki?

“berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hartaa yang telah Dia menjadikan kamu sebagai penguasaNya (amanah )” (QS Al Hadid : 57 :7)

Artinya, si uang dalam agama Islam pun harus mengenal aturan, diantaranya adalah perintah untuk berinfak.Inilah bentuk kasih sayang Allah, agar manusia tidak terjerumus dalam sifat rakus, tamak, ketika berhadapan dengan materi. Maha Suci Allah, dengan segala kesempurnaanNya.

Uang, tidak mengenal agama. Sekali lagi, itu benar. Penganut akidah apapun ternyata semua butuh uang. Tapi disinilah Islam mengatur melalui al imanu diniyah dan al-imanu duniawiyah yang menciptakan sistem dalam kehidupan manusia secara seimbang.

dan demikianlah (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam yang tengah (berkeseimbangan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu ( QS Al Baqarah :143)

Wallahualam bis shawab

Tulisan ini untuk menambahkan pernyataan Akew di syuro

Inspirasi : Dasar-Dasar Iman, Abul A’la Al Maududi

Jajanan Harga Diri

Asri Nur Aini

22122323_3 Bus kota berjalan meliuk-liuk membuat badan geli. Berkali-kali senyum mengembang karena menyaksikan pemandangan yang dirindukan. Rindangnya hutan jati, dinginnya hawa menerpa pipi. Kanan kiri terlihat rumah berteras yang menggelar gabah untuk dikeringkan. “Wah.. ndeso tenan..” gumam si Budi sambil terkekeh. Ia sangat menikmati perjalanan mudik lebaran untuk bertemu keluarga di kampung.

Di tengah keasyikannya mengamati pemandangan, si Budi mengerutkan dahi saat bis melewati toko-toko kecil di desa itu. Ia mencermati dari jauh apa yang mereka jual. “Benar-benar keren! Biar deso begini, jajannanya bikinan pabrik multinasional!” Budi coba-coba mengingat, itu bikinan Amerika, Singapura, atau Australia ya?

Tapi mendadak Budi kebingungan dan tidak enak hati. Jajanan biskuit, kue, permen, bahkan kripik singkong kok banyak banget dari produk asing. Mendadak pula harga dirinya pun terusik. Memangnya bangsa ini tidak bisa membuatnya? Makanan ringan saja dibikin negara lain!” sungutnya.

Budi berpikir lagi. Apakah pemerintah dan masyarakat lainnya merasakan hal yang sama? Merasa malu dengan situasi ini. Ya, kalau malu, pemerintah bersegera memanggil masyarakat yang diyakini sangat kreatif untuk membuat produk saingan. Pemerintah mengajak untuk bermusyawarah untuk menerbitkan ide, menggalakkan riset, memberikan dukungan modal, sambil menjalankan kontrol. Tak lupa dalam pelaksanaannya memprioritaskan ekologi,jadi beda dengan negara lain. Artinya pribadi deso alias local wisdom perihal lingkungan tidak pula ditinggalkan.

Tapi, satu hal yang disayangkan, Selama ini masyarakat tidak diajak berpikir. Sungguh Budi yakin, haqqul yaqiin dah! Masyarakat semua berpotensi, dan pasti menghasilkan gagasan orisinal saat diajak berkumpul dan berpikir. Tapi ya itu yang jarang. Bahkan untuk diajak berpikir sekalipun.

Sekarang Lebaran.Budi ingat kue kering di rumah. Permintaan kue kering olahan rumah tangga saat ini pasti meningkat. Jajanan karya wong kreatif ini terbukti tak kalah enak. Meski cuma dikemas stoples polos tanpa barcode. Tapi keuntungan penjualan kue ini bisa diprediksi tidak berlangsung lama Mereka kembali menyimpan kue-kuenya, sadar akan modal sedikit, rentenir yang tidak pernah ikhlas, akses marketing sulit karena terbatasnya dukungan informasi, dan permainan pasar kurang kontrol. Memang ada yang bertahan, tapi masih dalam level pengusaha mikro terus-terusan. Ada pula masyarakat yang kreatif namun terpaksa gulung tikar, melihat fenomena produk asing yang diberi kebebasan seluas-luasnya hingga mengerdilkan produk mereka. Masyarakat yang memiliki hak memperoleh bantuan, hanya berteriak minta tolong, tapi jarang yang mau mendengarkan.

Budi terdiam, yang ia ingat sekarang bahwa setelah Lebaran akan ada periode kepemimpinan baru. Ia tidak berkomentar banyak, selain mendudukkan pandangannya sebagai akademisi. Lepas dari apa yang dilakukan pemerintah nanti , Budi merasa bahwa akademisi juga mengambil peran, yakni mendorong pencerdasan untuk menaikkan harga diri masyarakat. Yah.. dia baru semester dua, Budi baru bisa berupaya kecil-kecilan. Sepulang mudik ia bertekad akan beraksi lewat internet dan tulus ikhlas membuat blog : Kiat Sukses Menjadi Pengusaha Kue Kering.

***

Asri Nur Aini

budaya yang mana cu?

budaya yang mana bro?

Ada yang mengkhawatirkan dalam penyampaian fungsi komunikasi ekspresif soal kejadian si Tari Pendet yang nongol dalam Discovery Channel untuk promosi pariwisata Malaysia. Ada aktivis dari kalangan mahasiswa di daerah X berdemonstrasi dan menyatakan siap menghancurkan negara satu itu. Ada yang melayangkan email sumpah serapah, katanya sebagai wujud nasionalisme.Kemudian Si Ntong bikin situs jejaring sosial, yang mau gabung memaki maling silahkan mendaftar.

Pokoknya hari itu mirip pasar..” kata Bang Ed Zoelverdi, lalu beliau melanjutkan, “Tugas anda adalah berbicara untuk menenangkan orang pasar.

Melihat. Arah mata angin ada lima. Selain utara, selatan, timur, dan barat, yang satunya adalah melihat dari tempat anda berpijak. Itu nasihat si bapak. Mungkin ini opini dari kaki saya berpijak untuk melihat pasar ini.

Untuk masalah pengklaiman buaya, saya akan mengantarkan pada pengertian budaya yang hampir dilupakan banyak orang. Prof. Ilya Revianti Soedjono, dosen Kajian Budaya mengingatkan bahwa ada dua kebudayaan., yakni kebudayaan tradisional dan budaya kreatif, atau budaya zaman sekarang. Nah ini nih yang jadi alasan, mengapa aksi ganyang cenderung dipandang lebay.

Budaya tradisional adalah budaya masa lalu, mahakarya nenek moyang kita yang telah dibangun susah payah. Mereka mengintegrasikan kreativitas dengan usaha mereka sendiri. Mungkin perlu ratusan eksperimen, jatuh bangun, trial error, dan mengenal sedikit teknologi canggih. Tapi hal tersebut tak jadi masalah. Hasilnya kita bisa lihat, seperti wayang. Mulai dari teknik pembuatannya yang butuh ketelitian, kesabaran, pakai nurani, sehingga membuahkan cerita dengan makna mendalam dan mengajarkan nilai luhur. Watak, perjuangan, kepemimpinan, tujuan hidup. Semua disusun anggun, detail dan sarat makna. Itulah kehebatan nenek moyang kita. Tapi, itu dulu, sudah lama, ratusan tahun. Sekarang kita cari kehebatan kita. Eit. Apa ya. Budaya kita sekarang? Em,… eh eh, ada gak ya bro?

Inilah yang sedang terjadi. Masyarakat berseru kalau batik, reog, wayang, nyanyian ini itu hasil karya bangsa kita. Sebenarnya kita terlalu larut bernostalgia jaman dahulu. Padahal jelas-jelas itu bukan hasil karya tangan kita. Itu buah pikiran nenek moyang yang sudah bekerja keras membentuk tradisi mereka sendiri. Mereka memang tidak punya uang, tapi punya tradisi. Sayangnya, kita sedang berada dalam kondisi sebaliknya. Sibuk cari uang tapi tidak punya tradisi. Pakai ayat ah biar mantap!

Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu udahakan. Dan kamu tidak diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang dahulu mereka kerjakan.” ( QS Al Baqarah 2 :134)

Artinya, kita tidak hanya sekedar bangga menunjukkan hasil karya nenek moyang tapi harus mampu menunjukkan hasil karyanya sendiri. Imam Munawir, seorang cendekiwan muslim mengingatkan : “Sudahkan kita memikirkan, membuat konsep yang tidak usang, sesuai dengan kebutuhan sekarang atau hari yang akan datang?Bukankah bangsa yang besar selalu berpandangan ke depan?

Renungan kita. Ini keliru. Kita sudah terlalu lamaa membanggakan budaya tradisional, tapi tidak beranjak, membuat budaya sendiri sepenginggal mereka. Harus kita akui, kita sama sekali belum mencapai mahakarya yang mendunia, abadi, sarat makna filosofi seperti yang telah dibangun nenek moyang kita. Kini bukan saatnya lagi adu jotos, bentar lagi juga lemes. Lepas dari pemerintah mau memikirkan atau tidak, lebih baik kita memikirkan budaya kreatif asli dari zaman kita sendiri, biar berdampingan bangga dengan almarhumah nenek, barangkali mendapat pujiannya… “Nah.. ini neeh baru namanya cucu gue..”

Ketika muncul teriakan hancurkan, ganyang, perang dari suara akademisi, hal ini sangat mengkhawatirkan. “Tenang bro, kita bisa bayangkan kalau ucapan perang ente terealisasikan. Budaya tradisional kita tak bisa selamat, dan kesempatan membangun budaya kreatif pupus sudah. Huui,. Lebih serem kaan?”

Yah anggap deh itu kekhilafan melontarkan kata-kata. Lain kali enggak lai deh. Omongan mahasiswa kan jadi referensi publik juga. Dan kini saatnya bangkit dan bertindak, bukan sekedar mengumbar kata-kata. Hik hik.. khilaf.. khilaf..

***

Tulisan ini untuk dosen saya, Ed Zoelverdi ketika menyinggung masalah Pengklaiman Budaya

Hari ini

ada hari dimana detik ini terus mengejar

dan mengusik permintaan hati

Tuhanku, aku sulit mengerti

ketika hati yang tiada sejalan dengan pikiranku

kini ku tengah bertanya dan menerka jawaban

ketika mimpi-mimpi itu membayangi lagi

saat kehadiran suara yang tertulis dalam pena maya

mendesakku untuk tak mampu menolak

Tuhanku, siapa lagi tempatku meminta selain diriMu

dan jemari ini selalu mendesahkan kerumitan hati

dalam harap-harap tidurku

enggan ku menampakkan ilustrasi yang menggangguku

hari ini pun menjadi waktu yang sulit ku mengerti

tentang kelemahan yang terus terpikir

Tuhanku, berilah ketenangan pada diriku

… 15 Sept 09

Tulisan Sebelumnya »